Biaya Kirim Bisa Turun 65%, Efisiensi cost yang Sering Terlewat Distributor

Promo Layanan Udara Papandayan Cargo
Efisiensi logistk yang terlewat

Menjelang akhir tahun, banyak distributor sibuk mengirim stok ke cabang dan pelanggan di luar kota. Permintaan naik karena Natal, Tahun Baru, dan promo 12.12.

Saat margin mulai tipis, langkah yang biasa diambil adalah menawar harga ke supplier atau mengurangi biaya promosi. Padahal, ada satu biaya yang jarang dicek ulang, yaitu ongkos kirim antarkota.

Banyak bisnis membayar layanan jemput dan antar barang, padahal bagian itu bisa diurus sendiri dengan biaya lebih murah. Di artikel ini, kita hitung bersama berapa yang sebenarnya bisa dihemat.

Berapa Sebenarnya Biaya Logistik dalam Harga Satu Mesin?

Harga barang yang sampai ke pembeli tidak hanya terdiri dari harga pokoknya. Ada beberapa biaya tambahan yang ikut masuk di setiap unit. Contohnya, distributor di Jakarta menjual mesin pencacah plastik ke pabrik daur ulang di Surabaya. Harga pokok mesin Rp45 juta, dengan berat sekitar 1 ton setelah dikemas peti kayu.

Dari tabel di atas, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:

  1. Biaya logistik per mesin sekitar Rp3,1 juta. Angka ini setara 6,9% dari harga mesin.
  2. Ongkos kirim adalah komponen terbesar. Nilainya Rp2 juta, lebih besar dari biaya packing dan asuransi digabung.
  3. Biayanya membengkak seiring jumlah kiriman. Untuk 25 mesin per bulan, biaya logistik mencapai sekitar Rp77,8 juta per bulan, atau lebih dari Rp930 juta per tahun.

PPN jasa kirim dihitung 1,1% sesuai PMK 71/2022 (DDTCNews).

Beban seperti ini bukan hanya dirasakan satu-dua distributor. Para pelaku dan pengamat logistik pun sudah lama menyoroti hal yang sama, setidaknya dalam dua poin berikut:

  1. Logistik yang lebih murah membuat harga jual lebih bersaing. Yukki Nugrahawan Hanafi, saat menjabat Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), menyebut pelaku usaha menginginkan “biaya logistik murah sehingga berdampak pada harga jual” (Tirto).
  2. Kirim sedikit-sedikit justru membuat biaya mahal. Setijadi dari Supply Chain Indonesia (SCI) menilai salah satu penyebab mahalnya logistik adalah banyak pelaku yang mengirim dalam jumlah kecil secara terpisah (Bisnis.com). Artinya, mengirim dalam jumlah besar sekaligus bisa menjadi kunci untuk berhemat.

Efisiensi yang Sering Terlewat: Membayar Layanan yang Bisa Diurus Sendiri

Hemat biaya tidak selalu berarti menawar harga. Kadang caranya cukup dengan berhenti membayar layanan yang sebenarnya bisa diurus sendiri.
Setiap pengiriman antarkota punya 3 tahap:

  1. Jemput barang. Dari gudang pengirim ke gudang ekspedisi.
  2. Kirim antarkota. Dari kota asal ke kota tujuan.
  3. Antar barang. Dari gudang ekspedisi ke alamat penerima.
    Di layanan reguler, ketiga tahap ini dibayar dalam satu tarif. Padahal, tahap 1 dan 3 bisa Anda urus sendiri, baik dengan armada sendiri maupun dengan layanan online delivery yang lebih murah.

Port to Port: Cukup Bayar Pengiriman Antarkotanya

Port to port artinya barang dikirim dari gudang ekspedisi di kota asal ke gudang ekspedisi di kota tujuan. Anda hanya membayar tahap 2, yaitu pengiriman antarkota.
Cara Kerjanya

  1. Antar barang ke gudang Papandayan Cargo di Jakarta.
  2. Barang ditimbang, dicatat, lalu diberangkatkan ke Surabaya.
  3. Penerima mendapat kabar saat barang tiba di gudang Papandayan Cargo Surabaya.
  4. Penerima mengambil barang langsung di gudang.
    Kenapa Bisa Lebih Cepat?
  • Tidak perlu menunggu jadwal jemput. Barang bisa diantar ke gudang kapan pun siap.
  • Tidak perlu menunggu rute antar. Penerima bisa langsung mengambil barang begitu tiba.
  • Barang bisa sampai 1 hari lebih cepat dibanding layanan reguler.

Simulasi: Kirim 25 Mesin per Bulan, Reguler vs Port to Port

Kita pakai contoh mesin pencacah plastik tadi. Setiap mesin beratnya sekitar 1 ton, jadi satu mesin sudah memenuhi minimum pengiriman port to port. Distributor ini tidak punya armada sendiri, jadi memakai layanan online delivery di kedua kota.

Hasil simulasinya:

  1. Hemat sekitar Rp27,9 juta per bulan. Itu 55% lebih murah, meski sudah ditambah biaya online delivery di dua kota.
  2. Hemat sekitar Rp334 juta per tahun. Cukup besar untuk tambahan modal atau stok barang.
  3. Biaya logistik per mesin turun dari 6,9% menjadi 4,4%. Selisih sekitar Rp1,1 juta per unit bisa dipakai untuk harga yang lebih bersaing atau tambahan margin.

Catatan: tarif online delivery Rp100.000 adalah estimasi untuk jarak dekat dalam kota. Jika butuh kendaraan lebih besar, port to port tetap lebih hemat selama total biaya angkut di dua kota tidak lebih dari sekitar Rp1,3 juta per pengiriman.

Kapan Port to Port Cocok untuk Bisnis Anda?

Port to port paling menguntungkan jika:

  • Anda mengirim minimal 1 ton per pengiriman.
  • Anda punya armada sendiri, atau bisa memakai layanan online delivery di kota asal dan tujuan.
  • Penerima bisa mengambil barang sendiri di gudang tujuan.
  • Pengiriman rutin, misalnya restock mingguan atau bulanan.

Sebaliknya, layanan reguler lebih cocok untuk kiriman kecil, penerima yang tidak bisa datang ke gudang, atau pengiriman ke banyak alamat sekaligus.

Hemat Biaya Kirim Akhir Tahun Bersama Papandayan Cargo

Jika bisnis Anda rutin mengirim barang dalam jumlah besar, layanan port to port Papandayan Cargo bisa menjadi cara cepat menekan biaya logistik:

  • Tarif mulai Rp700/kg untuk rute Jakarta–Surabaya.
  • Minimum pengiriman 1 ton.
  • Bisa sampai 1 hari lebih cepat karena tanpa menunggu jemput dan antar.

Hubungi tim Papandayan Cargo lewat WhatsApp untuk cek jadwal keberangkatan dan lokasi gudang. Butuh penanganan khusus untuk barang Anda? Lihat juga layanan penanganan barang khusus dari Papandayan Cargo.

Butuh Solusi Pengiriman yang Tepat?

Tim kami siap membantu Anda menentukan metode pengiriman terbaik sesuai jenis barang, rute, dan kebutuhan bisnis Anda.