9 Kesalahan Pengelolaan Ongkos Kirim yang Sering Dilakukan Bisnis dan UMKM

Kesalahan pengelolaan ongkos kirim bagi UMKM dan bisnis menggunakan data biaya logistik di laptop
Banyak UMKM dan bisnis sering melakukan kesalahan dalam menghitung dan mengelola ongkos kirim.
Promo Papandayan Cargo

Papandayan Cargo – Dalam era bisnis yang semakin kompetitif, terutama di sektor e-commerce dan distribusi, biaya logistik atau ongkos kirim menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi margin keuntungan.

Sayangnya, masih banyak bisnis yang mengelola ongkir secara kurang strategis, mulai dari perhitungan yang tidak lengkap hingga pencatatan yang belum rapi. Kesalahan kecil dalam pengelolaan ongkos kirim dapat berdampak besar. Margin bisa tergerus tanpa disadari dan arus kas menjadi tertekan.

Tidak sedikit pelaku usaha mengalami peningkatan penjualan, tetapi profit tidak ikut bertumbuh karena biaya logistik tidak dikontrol dengan baik.

Sebagai penyedia layanan pengiriman kargo untuk berbagai kebutuhan bisnis dan distribusi, kami sering menemukan bahwa kebocoran margin bukan hanya disebabkan oleh tarif pengiriman itu sendiri.

Dalam banyak kasus, masalah muncul dari kurangnya perencanaan serta pencatatan biaya logistik secara menyeluruh sejak awal proses operasional.

Artikel ini akan membahas berbagai kesalahan pengelolaan ongkos kirim yang sering terjadi serta solusi praktis yang dapat langsung Anda terapkan dalam operasional bisnis.


Mengapa Pengelolaan Ongkos Kirim Menjadi Faktor Penting?

Bagi banyak bisnis, ongkir sering dianggap sebagai biaya tambahan setelah transaksi terjadi. Padahal dalam praktik operasional, biaya pengiriman merupakan bagian penting dari struktur biaya distribusi yang dapat memengaruhi profit secara langsung.

Ketika ongkos kirim tidak dikelola dengan baik, perusahaan sering kali menanggung biaya distribusi yang sebenarnya cukup besar. Biaya ini tidak selalu terlihat secara langsung karena sering tersebar dalam berbagai proses operasional.

Pengelolaan ongkir yang tepat membantu bisnis memahami biaya distribusi secara lebih transparan. Dengan begitu, perusahaan dapat menentukan strategi harga, distribusi, dan operasional dengan lebih akurat.


Penyebab Umum Kebocoran Biaya Logistik

Kebocoran biaya logistik sering kali bukan disebabkan oleh tarif pengiriman yang tinggi. Justru banyak kasus menunjukkan bahwa masalah muncul dari sistem pengelolaan biaya yang kurang rapi.

Beberapa bisnis tidak memasukkan ongkir dalam perhitungan biaya produk. Sebagian lainnya tidak melakukan evaluasi biaya pengiriman secara berkala. Kombinasi kesalahan ini membuat biaya distribusi terus meningkat tanpa kontrol yang jelas.

Ketika perusahaan mulai melihat logistik sebagai bagian dari strategi bisnis, biaya pengiriman dapat dikelola dengan lebih efisien. Hal ini terutama terasa pada distribusi antar pulau yang membutuhkan perencanaan logistik yang lebih matang, seperti pada rute Jakarta Makassar yang sering digunakan bisnis untuk menjangkau pasar di kawasan Indonesia timur.


9 Kesalahan Pengelolaan Ongkos Kirim yang Sering Terjadi

Dalam operasional distribusi sehari hari, terdapat beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi pada bisnis maupun UMKM. Kesalahan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya dapat memengaruhi efisiensi biaya logistik secara keseluruhan.

Memahami kesalahan berikut dapat membantu bisnis mengevaluasi sistem pengelolaan ongkir yang selama ini digunakan.


1. Tidak Memasukkan Ongkir ke Perhitungan HPP

Banyak UMKM hanya menghitung harga beli produk tanpa memasukkan biaya pengiriman dari supplier ke gudang. 

Akibatnya, margin terlihat besar di atas kertas tetapi sebenarnya tergerus biaya logistik. Bisnis bisa kesulitan mengontrol margin karena akan menjual harga produk dengan lebih murah dari yang seharusnya.

Jadi, pastikan ongkos kirim dari supplier ke gudang dimasukkan sebagai bagian dari biaya perolehan barang. 

Dengan begitu, harga pokok penjualan (HPP) mencerminkan biaya yang sebenarnya.

2. Memberi Gratis Ongkir Tanpa Perhitungan

Bisnis sering memakai promo gratis ongkir untuk menarik pembeli, tetapi jika tidak dihitung dengan benar, biaya ini bisa langsung memakan margin.

Jika hal ini terus berlangsung, maka laba bisnis bisa menurun drastis, arus kas tertekan, dan promo gratis ongkir pun menjadi tidak sustainable.

Untuk mengatasinya, bisnis Anda bisa:

  • Menentukan subsidi ongkir sebagian
  • Menerapkan minimum pembelian untuk mendapat gratis ongkir
  • Membatasi periode promo

3. Tidak Memisahkan Ongkir Masuk dan Ongkir Keluar

Sebagian bisnis mencampur biaya pengiriman dari supplier (inbound freight) dengan ongkir ke pelanggan (outbound shipping). Padahal keduanya punya fungsi akuntansi yang berbeda.

Kesalahan ini bisa menyebabkan laporan keuangan yang tidak akurat, sulitnya analisis biaya logistik, dan keliru dalam menentukan strategi harga.

Cara mengatasinya adalah membuat akun biaya terpisah di sistem akuntansi. Inbound freight masuk ke nilai persediaan, sementara outbound shipping masuk ke biaya penjualan.

4. Tidak Update Tarif Ongkir Secara Berkala

Tarif ekspedisi bisa berubah karena BBM, surcharge, atau kebijakan kurir. Sementara itu, banyak UMKM yang lupa memperbarui tarif mereka di sistem atau marketplace.

Akibatnya, penjual sering kali harus menanggung biaya ongkir, sehingga berpotensi merugi jika harga produk yang dijual tidak bisa menutupi.

Untuk mengatasinya, jadwalkan update tarif minimal setiap bulan, sinkronkan tarif di semua saluran penjualan (marketplace, website, dll). 

Tidak memperbarui tarif ongkir secara berkala dapat membuat perhitungan biaya pengiriman menjadi tidak akurat.

5. Mengabaikan Efisiensi Packaging

Ukuran dan berat paket sangat memengaruhi ongkir. Namun, UMKM sering memakai kemasan yang terlalu besar atau berat.

Padahal, ini bisa menyebabkan ongkir yang lebih mahal dari seharusnya dan keuntungan per pesanan turun. Biaya logistik pun menjadi tidak efisien.  

Karena itu, gunakanlah kemasan sesuai ukurang produk, hindari ruang kosong berlebih, serta buat standarisasi kemasan.

6. Tidak Melacak Ongkir per Channel Penjualan

Bisnis dan UMKM banyak berjualan di berbagai channel, tapi mereka sering tidak memisahkan biaya kirim dari marketplace, website, dan offline.

Jika dibiarkan, mereka tidak akan tahu channel mana yang paling boros ongkir dan kesulitan mengoptimasi strategi penjualan. Analisis profit per channel pun terancam bias.

Anda bisa mengatasi masalah ini dengan membuat laporan  ongkir per marketplace/website/offline, mengitung profit per channel setelah ongkir, fokus ke promo di channel yang paling efisien, dan mengvaluasi channel yang boros logistik.

7. Tidak Melakukan Rekonsiliasi Biaya Ekspedisi

Masalah selanjutnya adalah bisnis yang jarang meng-cross check ulang Invoice dari ekspedisi dengan data pesanan.

Bisnis yang tidak melakukan rekonsiliasi biaya bisa menghadapi risiko seperti biaya tambahan yang tidak terdeteksi, masalah double charge, dan kesalahan lainnya yang merugikan.

Cara mengatasinya:

  • Cocokkan invoice dengan data order
  • Cek berat yang ditagihkan
  • Audit biaya tambahan (surcharge, biaya COD)
  • Buat checklist rekonsiliasi bulanan

8. Tidak Menggunakan Data untuk Optimasi Logistik

Banyak UMKM mencatat ongkir hanya sebagai biaya, bukan sebagai data strategis.

Padahal data ongkir bisa dipakai untuk menentukan gudang terdekat, Dalam praktiknya, pemilihan mitra logistik dan rute distribusi yang tepat juga berperan besar dalam menekan biaya pengiriman, terutama bagi bisnis dengan volume kirim menengah hingga besar.

9. Pencatatan Ongkir Masih Manual dan Tidak Rapi

Ini akar dari banyak masalah. Tanpa sistem yang rapi, bisnis sulit melihat biaya logistik secara real-time.

Selain itu, mencatat biaya pengiriman secara manual juga sangat menyita waktu dan tenaga.

Salah satu cara paling efektif menghindari kebocoran ongkos kirim adalah menggunakan aplikasi akuntansi yang terintegrasi seperti Kledo.Kledo membantu bisnis mengelola pembukuan, laporan keuangan, manajemen persediaan, dan stock opname barang secara lebih efisien dan terstruktur.

Selain itu, karena berbasis cloud, data keuangan dapat diakses kapan saja dan dari mana saja melalui internet, sehingga monitoring biaya ongkir menjadi lebih fleksibel. 


Cara Memperbaiki Sistem Pengelolaan Ongkir

Setelah memahami berbagai kesalahan yang sering terjadi, langkah berikutnya adalah memperbaiki sistem pengelolaan biaya logistik secara bertahap. Perubahan tidak harus dilakukan secara drastis, tetapi bisa dimulai dari hal yang paling berdampak.

Bisnis dapat mulai dengan memperbaiki pencatatan biaya pengiriman, mengevaluasi struktur HPP, serta melakukan monitoring biaya distribusi secara berkala. Dengan data yang lebih jelas, perusahaan dapat melihat area mana yang membutuhkan perbaikan.

Selain itu, penting juga bagi bisnis untuk mulai menggunakan data pengiriman sebagai dasar pengambilan keputusan. Analisis rute distribusi, biaya pengiriman per order, serta performa channel penjualan dapat membantu meningkatkan efisiensi logistik.


Peran Strategi Logistik dalam Pertumbuhan Bisnis

Logistik bukan hanya tentang memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain. Dalam skala bisnis yang lebih besar, strategi logistik dapat memengaruhi kecepatan distribusi, kepuasan pelanggan, serta efisiensi biaya operasional.

Bisnis yang memiliki sistem distribusi yang terstruktur biasanya mampu mengontrol biaya pengiriman dengan lebih baik. Mereka juga dapat mengoptimalkan jaringan distribusi agar proses pengiriman menjadi lebih efisien.

Ketika pengelolaan ongkir dilakukan secara strategis, biaya logistik tidak lagi menjadi beban yang mengurangi margin. Sebaliknya, logistik dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan bisnis.


Kesimpulan

Itulah 9 kesalahan pengelolaan ongkos kirim yang sering dilakukan bisnis dan UMKM. Padahal, pengelolaan biaya pengiriman yang tepat merupakan kunci penting dalam menjaga margin dan kesehatan arus kas bisnis, khususnya bagi UMKM yang bergerak di e commerce dan distribusi.

Kesalahan seperti tidak memasukkan ongkir ke HPP, memberi gratis ongkir tanpa perhitungan, hingga pencatatan yang masih manual dapat menyebabkan kebocoran biaya yang sering tidak disadari.

Dengan menerapkan strategi pengelolaan logistik yang lebih terstruktur, bisnis dapat mengendalikan biaya pengiriman sekaligus meningkatkan profitabilitas. Yang tidak kalah penting, penggunaan sistem pencatatan yang terintegrasi akan membantu memastikan seluruh biaya tercatat rapi dan mudah dipantau.


FAQ

1. Apa yang dimaksud pengelolaan ongkos kirim?

Pengelolaan ongkos kirim adalah proses mengatur dan mengontrol biaya pengiriman agar tetap efisien serta tidak mengganggu margin bisnis.

2. Mengapa ongkos kirim bisa memengaruhi keuntungan bisnis?

Karena ongkir merupakan bagian dari biaya operasional yang dapat mengurangi profit jika tidak dihitung dengan tepat.

3. Apakah UMKM perlu mengelola ongkir secara detail?

Ya. Pengelolaan ongkir yang rapi membantu UMKM memahami struktur biaya logistik dan menjaga stabilitas arus kas.

4. Bagaimana cara menekan biaya pengiriman dalam bisnis?

Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain memperbaiki packaging, memperbarui tarif secara berkala, serta menganalisis data distribusi.

5. Mengapa data ongkir penting bagi strategi distribusi?

Data ongkir membantu bisnis menentukan rute pengiriman, gudang distribusi, dan mitra logistik yang paling efisien.

Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia

Distribusi barang dari Jakarta ke berbagai wilayah Indonesia membutuhkan perencanaan logistik yang matang agar biaya pengiriman tetap efisien. Pengelolaan ongkir yang baik membantu bisnis menjaga margin sekaligus memastikan proses distribusi berjalan lancar.

Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia

Surabaya menjadi salah satu pusat distribusi penting untuk pengiriman ke berbagai wilayah Indonesia, terutama kawasan timur. Dengan pengelolaan logistik yang tepat, pengiriman dari Surabaya dapat dilakukan secara lebih efisien tanpa meningkatkan beban biaya operasional.

Last Updated: 11/03/2026

Berita dan Artikel Terbaru

Bagikan Jika Bermanfaat