Daftar Isi
ToggleMengenal Kapal Tongkang. Transportasi Pengangkut Batu Bara
Mengenal Kapal Tongkang Batu Bara – Batu bara merupakan salah satu sumber daya alam yang penggunaannya sering ditemukan mulai dari skala kecil hingga besar. Tapi tahukah kamu bagaimana cara mengangkut batu bara dengan jumlah besar? Adakah transportasi yang dapat memuat batu bara dengan volume tinggi? Jawabannya ada. Kapal tongkang merupakan transportasi yang sering memuat batu bara dengan jumlah banyak. Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai apa itu kapal tongkang Batu bara, mulai dari fungsi, ciri-ciri dan kapasitasnya:
Karakteristik Kapal Tongkang
Kapal tongkang batu bara memiliki beberapa ciri-ciri khusus yang mudah dikenali oleh banyak orang. Ciri-ciri tersebut adalah:
Bagian atas Terbuka
Kapal tongkang secara umum memiliki karakteristik unik, yaitu bagian atasnya terbuka dan tidak memiliki penutup. Bagian atas dibiarkan terbuka karena untuk memaksimalkan fungsi kapal tongkang sebagai wadah pengangkut Batu bara untuk skala besar.
Tidak Memiliki Mesin Penggerak
Kapal jenis ini juga tidak memiliki mesin penggerak di dalamnya. Oleh karena itu, kapal tongkang hanya dapat digerakkan oleh kapal lain. Kapal lain yang difungsikan untuk menarik kapal tongkang biasanya adalah tug boat atau yang memiliki nama lain kapal tunda. Dengan karakteristik ini, maka kapal tongkang termasuk dalam salah atau kapal yang memiliki ciri unik.
Mempunyai Dinding yang Tebal dan Tinggi
Karakteristik ini memang ditujukan untuk menunjang fungsi kapal tongkang sebagai pengangkut Batu bara. Dinding yang tebal berfungsi untuk menahan tekanan dari beban Batu bara yang diangkut. Sementara itu, dinding yang tinggi akan membuat kapasitas dari kapal tongkang menjadi lebih banyak.
Fungsi dan Cara Pengoperasian
Sesuai dengan penjelasan di atas, kapal tongkang memiliki fungsi utama sebagai pengangkut barang, salah satunya Batu bara. Batu bara tersebut nantinya didistribusikan ke pelabuhan atau kapal induk dengan bantuan tug boat. Untuk langkah operasi pemindahannya akan dijelaskan sebagai berikut:
- Kumpulkan batu bara di pelabuhan atau dermaga khusus bongkar muat Batu bara
- Muat semua batu bara tersebut ke wadah besar, yaitu kapal tongkang.
- Siapkan tug boat atau kapal tunda
- Ikat kapal tongkang ke tug boat
- Operasikan tug boat menuju pelabuhan lain atau kapal induk
- Lakukan bongkar barang ketika sudah sampai tujuan
Kapasitas dan Ukuran Kapal Tongkang
Jenis kapal tongkang selain dari barang bawaan yang dimuat juga dapat dibedakan menurut kapasitas atau ukurannya. Ukuran di sini diukur dalam satuan ukur kaki (feet) dan kapasitasnya diukur menurut satuan ukur ton. Berikut kapasitas dan ukuran kapal tongkang Batu bara:
- Ukuran 180 Kaki: mampu memuat maksimal 2 ton batu bara
- Ukuran 230 Kaki: maksimal dapat mengangkut 4 ton batu bara
- Ukuran 270 Kaki: kapasitas maksimal kapal ukuran ini adalah 6 ton
- Ukuran 300 Kaki: memiliki kapasitas maksimal sejumlah 8 ton
Keunggulan Kapal Tongkang
- Lebih Efisien
Kapal tongkang memiliki tingkat efisiensi yang tinggi daripada jenis kapal pengangkut muatan curah lain seperti kapal bulk carrier. Hal ini terlihat dari waktu bongkar muat yang lebih efisien karena prosesnya lebih mudah dan sederhana.
- Biaya Angkut Lebih Murah
Sama seperti keunggulan sebelumnya, kapal tongkang juga lebih murah biaya angkutnya dibanding jenis kapal angkut skala besar lainnya. Kapal tongkang tidak memiliki mesin sehingga tidak perlu mengisi bahan bakar. Biaya bahan bakar tetap dibebankan untuk kapal tunda yang digunakan untuk menarik kapal tongkang. Meski tetap membayar biaya bahan bakar, namun pengeluaran tersebut akan lebih murah.
- Lebih Fleksibel
Ukuran kapal tongkang yang sederhana dan lebih kecil dari kapal seperti bulk carrier membuat jenis kapal ini lebih fleksibel untuk mengakses perairan yang lebih kecil, seperti sungai yang dangkal.
- Multifungsi
Selain untuk mengangkut barang seperti batu bara, kapal tongkang juga dulu pernah difungsikan sebagai transportasi pengangkut di wilayah terpencil. Bahkan pernah digunakan sebagai jembatan apung di daerah yang belum memiliki jembatan secara permanen.
Last Updated: 16/03/2026