Papandayan Cargo – Supply chain mengatur seluruh aliran barang dari hulu ke hilir, sedangkan logistik fokus pada pergerakan fisik barang dari titik A ke titik B. Di lapangan, supply chain menyentuh koordinasi multi-pihak, sementara logistik menangani eksekusi harian seperti muat, kirim, simpan, dan distribusi.
Daftar Isi
ToggleSupply Chain Mengatur Alur Besar, Logistik Menangani Eksekusi Harian
Supply chain mengatur urutan proses besar mulai dari kapan barang dibuat, dari mana bahan dibeli, bagaimana barang masuk ke pusat distribusi, sampai akhirnya diterima customer. Logistik adalah bagian operasional yang memastikan pergerakan barangnya terjadi dengan benar mulai dari gudang asal, ke line produksi, hingga ke transporter atau agen distribusi.
Di banyak perusahaan, supply chain terlihat saat harus menentukan lead time dari vendor, memutuskan buffer stock, atau membuat rencana distribusi musiman. Logistik terlihat saat tim harus memastikan truk muat tepat waktu, barang tidak rusak, dan rute pengiriman aman.
Perbedaan ini nyata ketika menangani pengiriman besar antarpulau. Saat supply chain menetapkan pola pergerakan barang dari pabrik Jawa ke distributor Sumatra, tim logistik memastikan barang benar-benar masuk ke armada yang tepat. Bahkan pemilihan jalur seperti layanan ekspedisi murah Surabaya–Medan sering jadi bagian diskusi supply chain untuk menekan biaya total, namun eksekusinya adalah tanggung jawab logistik.
Cakupan Supply Chain Lebih Luas dan Memengaruhi Total Biaya
Supply chain mengatur koordinasi banyak pihak mulai dari vendor, produksi, gudang, transporter, hingga retail.
Logistik berperan menjaga keandalan proses pergerakan barang.
Dalam operasional nyata, supply chain menentukan:
- kapan bahan baku harus tiba agar produksi tidak berhenti,
- kapasitas gudang mana yang perlu diperbesar,
- apakah perlu pindah dari moda darat ke laut saat permintaan naik,
- bagaimana distribusi musiman disiapkan (Idul Fitri, Natal, tahun ajaran).
Persoalan teknis sering muncul pada titik ini. Misalnya, keterlambatan bahan baku 12 jam saja bisa menghambat line produksi bernilai puluhan juta rupiah. Supply chain harus mempertimbangkan keamanan pasokan, fluktuasi harga, dan risiko cuaca di rute tertentu.
Tim logistik kemudian mengambil keputusan praktis: jadwal muat malam supaya menghindari kemacetan jalan raya, penyesuaian rute ketika akses pelabuhan padat, atau penambahan penguatan (strapping) jika muatan berpotensi bergerak saat gelombang tinggi.
Logistik Lebih Teknis: Penanganan Barang, Rute, Risiko, dan Keamanan
Logistik menangani segala hal yang membuat barang bisa bergerak secara fisik.
Beberapa aspek teknis yang biasa muncul di lapangan:
- Stabilitas muatan: Barang dengan density rendah seperti rockwool atau barang panjang harus diposisikan pada titik berat tertentu. Kesalahan posisi ±10–15 cm bisa menyebabkan barang geser saat rem mendadak.
- Kelembapan: Produk seperti kertas, elektronik, atau bahan bangunan sensitif terhadap RH > 70%. Logistik perlu memastikan area muat dan penyimpanan tertutup atau diberi desiccant.
- Durasi transit: Moda laut bisa 3–7 hari lebih lambat daripada jalur udara atau trucking cepat. Supply chain menghitung risikonya, logistik memastikan barang tidak rusak selama transit panjang.
- Handling di gudang: Operator forklift harus memastikan fork masuk sempurna 80–90% ke pallet untuk menghindari forklift tilt atau paket jatuh.
- Rute dan konsolidasi: Logistik mengatur apakah muatan digabung (consolidation) atau dipisah. Penggabungan yang salah bisa merusak barang sensitif tekanan.
Pada kasus khusus seperti pengiriman mesin, farmasi, atau barang high-value, logistik harus membuat SOP tambahan:
- pengukuran titik tumpu sebelum muat,
- penggunaan bantalan karet,
- tambahan tali ratchet minimal 2 ton load capacity.
Supply chain biasanya tidak turun sampai hal seperti ini—tugasnya adalah memastikan semua proses itu terhubung dan memenuhi kebutuhan biaya serta waktu.
Kapan Supply Chain Membuat Keputusan dan Kapan Logistik Mengambil Alih?
Perbedaannya terlihat jelas saat ada masalah operasional.
Contoh nyata di lapangan:
- Barang menumpuk di gudang karena permintaan turun mendadak.
Supply chain mengevaluasi forecasting dan mengatur ulang alokasi distribusi.
Logistik mengatur rotasi barang agar tidak rusak dan memindahkan stok ke area bersuhu lebih stabil. - Keterlambatan kapal 24 jam karena cuaca.
Supply chain menghitung ulang lead time ke customer dan mengatur prioritas order.
Logistik memilih moda alternatif atau menyesuaikan jadwal muat agar tidak menghambat operasional gudang. - Lonjakan permintaan sebelum Lebaran.
Supply chain merencanakan safety stock tambahan.
Logistik mengatur ulang shift loading, overtime, dan konsolidasi muatan dengan rute padat.
Situasi seperti ini jarang terlihat pada teori. Di lapangan, supply chain dan logistik seperti dua roda yang harus sinkron. Begitu salah satu terlambat, gangguan langsung menyebar ke seluruh alur.
Kenapa Banyak Perusahaan Bingung Membedakan Keduanya?
Kebingungan terbesar muncul karena dua alasan:
1. Aktivitasnya Saling Tumpang Tindih
Supply chain butuh data dari logistik untuk menyusun keputusan.
Logistik butuh arahan supply chain agar pergerakan barang sesuai tujuan bisnis.
Jika salah satu tidak berjalan, efek domino terjadi: biaya naik, komplain customer meningkat, dan perputaran barang melambat.
2. Banyak Operasional yang Secara Praktik Tidak Dipisah
Di perusahaan kecil-menengah, satu orang bisa memegang dua fungsi.
Misalnya: admin gudang yang mengatur stok (supply chain) sekaligus booking armada (logistik).
Karena itulah pemahaman batasan fungsi menjadi penting. Kesalahan kecil seperti salah rute, salah moda, atau salah safety stock bisa memicu kerugian besar di hilir.
Logistik Menyentuh Transporter, Supply Chain Menyentuh Seluruh Ekosistem
Logistik mengurus transporter, armada, rute, dan proses angkut.
Supply chain mengurus lebih jauh: informasi permintaan, ketersediaan barang, hubungan vendor, pengadaan, hingga perencanaan distribusi.
Saat perusahaan memakai jasa freight forwarding, yang dibahas supply chain bukan hanya soal tarif, tapi juga ketepatan moda, kapasitas, serta integrasi rencana distribusi. Penjelasan mengenai proses ini bisa terlihat pada bahasan lengkap tentang apa itu freight forwarding.
Di lapangan, freight forwarder sering menjadi penghubung antara kebutuhan supply chain dan eksekusi logistik di pelabuhan, gudang, hingga trucking akhir.
Contoh Situasi Lapangan yang Menjelaskan Perbedaan
1. Pengiriman Mesin 800–1500 kg
- Supply chain menentukan jadwal produksi, lokasi drop, dan tenggat waktu.
- Logistik menghitung beban lantai gudang (umumnya aman di 3–5 ton/m²), memastikan posisi forklift 2–3 ton cukup, dan membuat rute aman ke lokasi unloading.
2. Distribusi Produk F&B ke Wilayah Padat
- Supply chain menyusun rencana distribusi, memperkirakan permintaan, dan memutuskan moda yang efisien.
- Logistik memastikan suhu kendaraan stabil di kisaran 10–15°C jika produk sensitif panas.
3. Pengiriman Konsolidasi Ritel
- Supply chain melihat pola permintaan mingguan dan menentukan volume minimal pengiriman.
- Logistik memilih apakah barang masuk ke jalur reguler atau jalur cepat untuk menekan waktu transit.
Situasi ini menunjukkan bahwa supply chain bekerja pada level “perencanaan aliran barang,” sedangkan logistik berada di level “bagaimana barang itu benar-benar bergerak”.
Checklist Teknis Umum di Fungsi Logistik
- pengecekan dimensi & titik berat barang,
- kesesuaian pallet (100×120 cm atau 110×110 cm),
- penggunaan strapping minimal 1 ton strength,
- pengecekan kadar kelembapan ruangan <70%,
- pencatatan foto barang sebelum muat,
- validasi rute dan kondisi armada,
- pengecekan penutupan bak atau kontainer rapat,
- monitoring GPS untuk rute rawan.
Checklist ini menjadi dasar agar keputusan supply chain tetap bisa dieksekusi tanpa gangguan.
Checklist Pengambilan Keputusan di Fungsi Supply Chain
- permintaan mingguan & musiman,
- kapasitas gudang per lokasi,
- usia stok, potensi deadstock,
- lead time vendor & transporter,
- biaya total landed cost per moda,
- risiko cuaca dan padat jalur pelabuhan,
- koordinasi dengan produksi & quality control.
Tanpa koordinasi dua fungsi ini, biaya logistik bisa membengkak 10–20% dalam satu musim saja.
Informasi lengkap tentang layanan pengiriman bisnis, cargo besar, dan rute antarpulau dapat ditemukan di Papandayan Cargo.
Kesimpulan
Supply chain mengatur seluruh aliran barang dari hulu ke hilir, sedangkan logistik menangani perpindahan fisiknya. Dua fungsi ini bekerja beriringan, supply chain menentukan arah dan kebutuhan, logistik memastikan eksekusi berlangsung stabil, aman, dan efisien. Perbedaan keduanya sangat nyata saat masuk ke detail operasional, mulai dari rencana distribusi, penjadwalan stok, hingga penguatan muatan saat loading. Koordinasi keduanya adalah kunci kelancaran distribusi dan efisiensi biaya.
FAQ
Pada operasional modern, logistik berada di bawah ekosistem supply chain tetapi memiliki fungsi teknis mandiri.
Ya, supply chain mengoordinasikan kebutuhan dari vendor hingga barang siap distribusi.
Logistik merekomendasikan moda, namun keputusan akhir biasanya mengikuti arah supply chain dan biaya total.
Barang rusak, waktu transit molor, dan biaya bertambah karena rework atau klaim.
Agar stok tidak menumpuk atau justru kurang, serta untuk memastikan logistik memiliki kapasitas dan jadwal yang siap.
Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia
Sekarang sangat mudah kirim barang dari Jakarta ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.
Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia
Sekarang sangat mudah kirim barang dari Surabaya ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.
Last Updated on 01/12/2025 by Rachmat Razi

