Papandayan Cargo – Jika berbicara tentang stacking dan stuffing, terdengar seperti dua istilah yang mirip namun ternyata cara kerjanya sangat berbeda.
Pertanyaan tentang perbedaan stacking dan stuffing sebenarnya muncul hampir setiap minggu di lapangan. Stacking adalah cara menata beban di dalam kontainer, sedangkan stuffing adalah proses memasukkan barang ke kontainer itu sendiri. Tapi kalau berhenti di definisi, rasanya tidak cukup menggambarkan apa yang sering terjadi di area loading. Kondisinya berubah cepat, forklift kadang harus menahan beban miring beberapa derajat, dan banyak orang tidak sadar bahwa satu keputusan kecil dalam penataan bisa membuat toleransi tekanan berubah sampai 15 persen.
Jujur saja, dua istilah ini terlihat sederhana, tapi justru di situlah banyak kesalahan praktik terjadi. Apalagi ketika muatannya campuran, misalnya mesin 300 kilogram yang berdampingan dengan karton fragile atau TV LED yang butuh perlindungan ekstra sampai 3 lapis foam dan wrapping. Situasi seperti ini sangat sering dihubungkan dengan rute padat seperti pengiriman ekspedisi dari Jakarta yang ritmenya cepat dan tidak banyak ruang untuk kesalahan. Informasi soal rute tersebut bisa dilihat pada ekspedisi Jakarta.
Stacking dan stuffing punya karakter yang sangat berbeda, meski duaduanya menentukan aman tidaknya perjalanan sebuah kontainer.
Daftar Isi
ToggleApa yang Dimaksud Stacking dan Bagaimana Kualitas Penataannya Diukur?
Stacking adalah urusan menumpuk, menata, menyusun, mengatur beban supaya tekanan gravitasinya tersebar rata. Yang satu ini terlihat sederhana, tapi di lapangan sering menjadi penyebab utama shifting load. Bagi yang pernah melihat kontainer dibuka setelah perjalanan laut 3 sampai 5 hari, pasti paham bahwa getaran 0.3 sampai 0.7 g di kapal bisa cukup membuat barang yang tadinya aman jadi bergeser.
Penataan stacking umumnya memperhatikan beberapa parameter teknis berikut:
• Toleransi tekanan vertikal maksimal 70 hingga 90 kN per titik tumpu untuk muatan berat
• Jarak antar tumpukan yang ideal berada pada kisaran 3 sampai 5 cm untuk memberi ruang ekspansi
• Tinggi tumpukan maksimal karton umum 1.8 meter sebelum risiko kompresi meningkat
• Untuk barang rapuh seperti TV LED besar, umumnya butuh 2 sampai 3 lapis bubble wrap dengan ketebalan minimal 10 mm per lapis agar tekanan lateral tidak memecahkan panel
Barang rapuh seperti TV LED sering mendapat perlakuan khusus. Sebagai contoh proses perlindungan TV LED besar.
Di lapangan, stacking yang buruk sering terlihat dari satu gejala kecil, yaitu bunyi geser saat forklift mengangkat palet pertama. Biasanya itu tanda bahwa pusat gravitasi tumpukan tidak rata dan gaya geser horizontal sudah melebihi 5 persen toleransi. Titik seperti ini rawan membuat karton bagian bawah melewati batas kompresi strukturalnya yang biasanya cuma sekitar 32 hingga 44 ECT.
Kadang operator berpengalaman mengukur kestabilan hanya dengan satu gerakan halus membalik palet, melihat apakah susunan bergoyang atau tetap kaku. Rasanya sepele, tapi kebiasaan ini sering menyelamatkan barang dari kerusakan di perjalanan.
Stuffing dan Tantangan Sebenarnya Bukan Pada Pengisiannya
Stuffing adalah proses memasukkan barang masuk ke dalam kontainer. Banyak yang mengira bahwa stuffing cuma soal membawa barang ke dalam, padahal tantangannya justru pada urutan, sudut masuk, dan pembagian beban ke kanan kiri kontainer.
Ada beberapa detail teknis yang biasanya diperhatikan operator stuffing berpengalaman:
• Distribusi berat kanan kiri harus seimbang dalam margin 200 hingga 300 kilogram agar kontainer tidak miring saat diangkat crane
• Titik berat barang besar ditempatkan 30 sampai 50 cm dari lantai dek agar tidak menciptakan pusat gravitasi yang terlalu tinggi
• Clearence dinding kiri kanan kontainer idealnya tetap memberi ruang 3 cm untuk mencegah gesekan saat kapal bergoyang
• Temperatur di dalam kontainer sebelum stuffing biasanya dicek berkisar 28 sampai 34 derajat karena beberapa material karton dan plastik akan melunak jika terlalu panas
Ada jeda kecil dalam proses ini yang sering diabaikan. Forklift operator biasanya berhenti sejenak ketika memasukkan barang pertama untuk memastikan lantai kontainer tidak licin atau mengandung pasir halus. Lapisan pasir setebal 1 sampai 2 mm saja bisa membuat barang meluncur saat perjalanan laut.
Stuffing juga butuh komunikasi cepat antara operator forklift, checker, dan helper. Kadang suara mesin terlalu bising sehingga instruksi harus disampaikan lewat gesture. Bagi orang yang tidak terbiasa, situasi seperti ini terlihat berantakan, tetapi sebenarnya ritme tersebut justru membuat proses lebih aman.
Ketika Stacking Buruk Menyebabkan Stuffing Jadi Rumit
Yang menarik, masalah stacking sering muncul sebagai masalah stuffing. Misalnya karton yang sudah mulai bengkok karena tekanan vertical load terlalu tinggi. Barang seperti itu kalau masuk ke kontainer pasti membuat gap tidak simetris. Operator biasanya mengakalinya dengan memberi bantalan kayu 12 hingga 18 mm agar tidak terbentuk rongga besar.
Ada pula kondisi ketika barang datang tanpa palet, sehingga stacking harus dilakukan manual. Situasi seperti ini sering menyita waktu dan membuat stuffing lebih sensitif terhadap shifting karena titik pijak barang tidak seragam.
Di tengah dinamika rute cepat seperti pengiriman antarpulau yang ritmenya padat, interaksi stacking dan stuffing menjadi semakin krusial. Informasi dasar tentang layanan ekspedisi bisa dilihat di situs utama Papandayan Cargo.
Checklist Teknis Stacking dan Stuffing yang Sering Dipakai di Gudang
Berikut beberapa checklist teknis yang umumnya digunakan untuk meminimalkan kerusakan:
Untuk Stacking
• Pastikan karton bawah masih dalam toleransi kompresi 32 hingga 44 ECT sebelum ditumpuk
• Jarak antar tumpukan 3 sampai 5 cm
• Tinggi tumpukan tidak lebih dari 1.8 meter
• Cek apakah lapisan proteksi minimal 10 mm masih utuh
Untuk Stuffing
• Cek keseimbangan berat kiri kanan dalam margin 200 sampai 300 kilogram
• Pastikan barang besar tidak ditempatkan terlalu tinggi, idealnya 30 sampai 50 cm dari lantai
• Pastikan clearance dinding 3 cm
• Pastikan kondisi lantai kontainer kering dan tidak berpasir
Penutup
Stacking dan stuffing bukan sekadar dua istilah teknis yang dipakai tim gudang. Ada intuisi yang terbentuk dari kebiasaan menangani barang puluhan ton setiap hari. Kadang keputusan dibuat dalam hitungan detik ketika forklift sudah di depan pintu kontainer. Di momen seperti itulah, pengalaman benar benar terasa menentukan.
Jika butuh referensi tambahan tentang layanan dan konteks pengiriman lain, informasi dapat dilihat melalui situs utama Papandayan Cargo.
Kesimpulan
Perbedaan stacking dan stuffing bukan hanya pada definisinya, tetapi pada karakter kerja yang sangat berbeda. Stacking bicara soal struktur, distribusi tekanan, dan daya tahan barang. Stuffing lebih berfokus pada penempatan, urutan, dan keseimbangan kontainer.
Dalam kenyataan lapangan, dua proses ini saling mempengaruhi. Ketika stacking rapi, stuffing jadi lebih cepat dan aman. Ketika stacking kurang tepat, stuffing terpaksa mengakomodasi risiko tambahan. Perspektif seperti inilah yang membuat praktik logistik terasa lebih manusiawi dan terus berkembang di setiap pengalaman baru.
FAQ
Stacking adalah cara menyusun barang, sementara stuffing adalah proses memasukkan barang ke dalam kontainer.
Tekanan berlebih membuat karton atau kayu melewati batas kompresinya dan memicu kerusakan saat perjalanan.
Tidak selalu, tetapi forklift mempercepat proses dan memberi presisi lebih pada barang berat.
Sekitar 3 cm agar tidak terjadi gesekan berlebih.
Ya, suhu tinggi bisa membuat plastik dan karton melunak sehingga penempatan barang perlu disesuaikan.
Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia
Sekarang sangat mudah kirim barang dari Jakarta ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.
Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia
Sekarang sangat mudah kirim barang dari Surabaya ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.
Last Updated on 04/12/2025 by Rachmat Razi

