Papandayan cargo – SLA logistik adalah standar waktu dan kualitas layanan yang disepakati antara penyedia ekspedisi dan pengirim. Fungsinya memastikan setiap tahap pengiriman, mulai dari penjemputan, transit, hingga serah terima, serta berjalan sesuai durasi dan kondisi barang yang dijanjikan. Di lapangan, SLA menjadi acuan operasional yang mencegah miskomunikasi dan meminimalkan risiko gagal kirim.
Daftar Isi
ToggleDefinisi SLA Logistik yang Digunakan dalam Operasional Cargo
SLA logistik dipakai sebagai kompas kerja harian agar alur pengiriman tertib, terukur, dan memiliki batas toleransi jelas. Semua tim mulai dari driver, loader, admin, hingga QC,mengacu pada parameter yang sama sehingga tidak ada celah interpretasi.
Di operasional ekspedisi cargo, SLA biasanya berisi empat blok utama: waktu penjemputan, waktu inbound–outbound di gudang, waktu keberangkatan armada, serta waktu estimasi tiba. Setiap blok memiliki toleransi 5–15% tergantung kondisi rute dan volume barang. Misalnya rute Jakarta–Banjarmasin. Pada rute tersebut, SLA keberangkatan tidak boleh mundur dari cut-off time karena kapal atau truk lintas pulau bekerja dengan jadwal ketat.
SLA menjadi dasar admin operasional dalam membuat keputusan real-time. Misalnya jika barang masuk setelah batas inbound harian, maka otomatis dialihkan ke jadwal berikutnya untuk menjaga akurasi komitmen yang sudah dikunci pada pelanggan.
Komponen Utama SLA Logistik yang Digunakan di Lapangan
Komponennya meliputi waktu, kondisi fisik, dan dokumentasi yang wajib dipenuhi oleh seluruh tim operasional untuk menjamin kepastian layanan.
1. SLA Penjemputan Barang (Pickup SLA)
Pickup SLA menentukan kapan kurir atau driver wajib tiba di lokasi pengirim.
Dalam operasional nyata, pickup memiliki 3 checkpoint:
-
- Window Time: contoh 10.00–14.00, tergantung rute harian.
-
- Toleransi Keterlambatan: biasanya 30–60 menit pada jam padat.
-
- Kelayakan Barang: pengecekan dasar (dimensi, fragilitas, titik berat, kadar kelembapan untuk material kayu/mesin).
Kesalahan paling sering terjadi pada mismatch dimensi: pengirim menuliskan estimasi 80 kg tapi barang di lapangan mencapai 120–150 kg karena base pallet tidak dihitung. Ketidaktepatan ini langsung berdampak pada SLA total.
2. SLA Inbound dan Outbound Gudang
Bagian ini mengatur kecepatan proses bongkar, scan, QC, labeling, hingga staging.
Target umum di gudang cargo:
-
- Inbound scanning: maksimal 3–5 menit per unit barang.
-
- QC fisik: 1–3 menit (cek retakan, kelengketan, stabilitas kemasan).
-
- Penyusunan di staging area: ≤ 15 menit sebelum cut-off keberangkatan.
SLA gudang dipengaruhi kondisi operasional seperti hujan, padatnya traffic forklift, dan antrian truck box. Bila inbound terlambat 20–30 menit dari jadwal, risiko terbesar adalah barang tertinggal moda keberangkatan hari itu.
3. SLA Keberangkatan Armada (Dispatch SLA)
Dispatch SLA adalah titik paling krusial. Satu kali mundur, seluruh jalur SLA berikutnya ambruk.
Dispatcher biasanya mengunci:
-
- Cut-off loading: 19.30–20.00 untuk rute jarak jauh.
-
- Berangkat aktual: 20.30–21.00 untuk jalur Jakarta–Jawa–Kalimantan.
-
- Toleransi: hanya 10–15 menit bila terjadi kendala teknis seperti strap longgar atau palet kurang stabil.
Jika armada berangkat terlambat, ETA otomatis bergeser. Untuk rute lintas pulau, keterlambatan 1 jam di darat bisa berarti tertinggal jadwal kapal, menggeser ETA hingga 24–48 jam.
4. SLA Transit dan Line-Haul
Transit SLA mengatur perpindahan barang di hub tengah perjalanan.
Checklist transit yang dianggap normal:
-
- barang tidak boleh disimpan lebih dari 6 jam di hub
-
- suhu gudang harus stabil untuk barang kemasan F&B
-
- posisi barang berat minimal 20–30 cm dari dinding gudang untuk mencegah kelembapan menempel
-
- tidak boleh ada perpindahan manual berulang (maks 2 kali) untuk barang besar agar terhindar dari deformasi titik tumpu
5. SLA Penyerahan Barang (Delivery SLA)
SLA terakhir menentukan kapan barang siap diserahterimakan.
Parameter yang dipakai:
-
- Window time penerima
-
- Jumlah anak tangga atau akses sempit
-
- Kebutuhan alat bantu (handlift, trolley, tali webbing)
-
- Kewajiban dokumentasi POD
Untuk barang berharga atau kategori “controlled handover”, dokumen seperti Bill of Lading yang sering menjadi pendamping wajib guna memastikan legalitas dan alur serah terima tercatat rapi.
Cara SLA Logistik Menjamin Keamanan Barang Cargo
SLA mengurangi risiko kesalahan karena semua tindakan sudah memiliki standar dan durasi yang jelas. Operasional tidak tergantung feeling atau improvisasi.
Tiap tahap memiliki indikator pengaman, misalnya:
-
- saat loading, sudut kemiringan barang berukuran besar tidak boleh melebihi 15°
-
- mesin cuci atau mesin industri wajib memiliki stopper kayu tambahan
-
- barang berbahan kaca harus ada buffer space minimal 2–4 cm dari dinding kargo
-
- material kayu atau plywood wajib dicek kadar kelembapan bila perjalanan melintasi rute laut
SLA juga menjaga disiplin dokumen. Barcode, label tujuan, dan kode rute diselaraskan agar penyortiran tidak salah jalur.
Kesalahan Umum yang Membuat SLA Logistik Gagal Terpenuhi
Gangguan terbesar jarang datang dari hal besar, justru dari hal kecil yang luput dicegah.
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
-
- dimensi dan berat tidak akurat sehingga salah kalkulasi muatan
-
- barang masuk lebih dari 15 menit setelah cut-off inbound
-
- pengemasan tidak sesuai standar sehingga QC menunda proses
-
- stiker alamat hanya ditempel satu sisi sehingga mudah tertutup barang lain
-
- akses pickup tidak diinformasikan penuh (portal, jam lingkungan, lift barang)
Kesalahan kecil seperti salah menuliskan RT/RW kerap menggeser delivery SLA hingga 1 hari, terutama untuk wilayah padat.
Parameter yang Biasanya Dicantumkan dalam SLA Logistik Cargo
Parameter ditetapkan berdasarkan kondisi operasional aktual, bukan teori umum.
Checklist parameter yang lazim:
-
- waktu pickup
-
- waktu inbound ke gudang
-
- waktu sorting dan staging
-
- waktu loading
-
- waktu keberangkatan line-haul
-
- ETA di kota tujuan
-
- waktu maksimal barang berada di hub
-
- syarat kondisi fisik barang
-
- kategori barang yang butuh perlakuan khusus
-
- SOP dokumentasi dan POD
Semakin besar volume barang pelanggan, semakin detail parameter diturunkan, termasuk rute cadangan, skenario cuaca buruk, dan toleransi downtime.
Standar Dokumentasi yang Wajib Sinkron dengan SLA
Dokumentasi menjadi pengikat agar SLA bisa diaudit jika terjadi kendala.
Standar dokumen yang digunakan:
-
- foto kondisi barang saat pickup
-
- barcode inbound–outbound
-
- form QC physical check
-
- POD elektronik (foto + tanda tangan)
-
- catatan waktu aktual perjalanan
Bila barang bernilai tinggi atau bersifat B2B, dokumen pendamping seperti Bill of Lading sering dimasukkan sebagai bagian dari SLA untuk memastikan alur legalitas dan pertanggungjawaban jelas.
Contoh SLA Logistik yang Terjadi di Operasional Cargo
Contoh SLA realistis untuk rute Jakarta → Banjarmasin:
-
- Pickup: window 10.00–14.00
-
- Inbound gudang: maksimal pukul 18.30
-
- Loading: 18.30–20.00
-
- Dispatch: 20.30
-
- Transit Surabaya: maksimal 6 jam
-
- Kapal Surabaya–Banjarmasin: sesuai jadwal harian
-
- ETA: H+4–H+6
-
- Delivery SLA: 10.00–17.00 setelah barang tiba di cabang
SLA ini digunakan sebagai dasar komitmen kepada pelanggan agar alur kerja tetap stabil meski volume barang fluktuatif.
Butuh SLA Logistik yang Stabil dan Terukur untuk Pengiriman Cargo?
Untuk pengiriman bisnis yang membutuhkan SLA jelas, stabil, dan terukur mulai dari pickup, inbound, loading, hingga delivery. Layanan Papandayan Cargo siap mendukung proses logistik dengan jadwal pasti, dokumentasi lengkap, serta tim operasional berpengalaman.
Kesimpulan
SLA logistik bukan sekadar dokumen, tetapi fondasi operasional yang memastikan seluruh proses pengiriman berjalan stabil, aman, dan sesuai komitmen. Dengan SLA yang jelas, penyedia ekspedisi mampu menjaga kecepatan alur kerja, meminimalkan kesalahan, dan memberikan prediksi waktu yang akurat bagi pelanggan bisnis maupun individu.
FAQ
Untuk memastikan setiap tahap pengiriman memiliki standar yang jelas dan dapat diprediksi.
Bisa, namun perubahan biasanya dilakukan melalui toleransi waktu yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Tidak, barang fragile atau bernilai tinggi memiliki parameter tambahan.
QC memverifikasi kondisi fisik agar SLA berikutnya tidak terganggu oleh kerusakan awal.
Ya, terutama penting karena rute antar pulau sangat bergantung pada jadwal kapal atau moda line-haul.
Last Updated on 28/11/2025 by Rachmat Razi


