Papandayan Cargo – LCL dipakai ketika volume barang tidak penuh satu kontainer sehingga digabung dengan muatan dari pengirim lain. FCL digunakan ketika satu kontainer diisi penuh oleh satu pengirim, baik karena volume, keamanan, maupun efisiensi biaya. Perbedaan ini berdampak langsung pada proses stuffing, handling, keamanan, biaya, dan lead time.
Daftar Isi
TogglePerbedaan Operasional Paling Penting antara LCL dan FCL
Perbedaan keduanya bukan hanya soal “muatan penuh atau tidak”, tetapi cara penanganannya dari gudang asal sampai pelabuhan tujuan. Pada skema LCL, barang melalui lebih banyak titik sentuh dan proses konsolidasi. Sedangkan FCL jauh lebih langsung, lebih sedikit handling, dan lebih stabil dari segi timeline.
Di lapangan, barang LCL biasanya di-drop ke warehouse konsolidator. Di sana, staf melakukan timbang, ukur, cek fisik, lalu menunggu pengiriman jadwal stuffing kontainer. Saat volume dari berbagai shipper terkumpul, barulah kontainer ditutup dan dikirim. Ini membuat lead time LCL lebih sensitif terhadap antrian dan kuota stuffing.
FCL berbeda total. Begitu barang siap di lokasi shipper atau gudang operator, kontainer langsung datang, dilakukan stuffing, segel dipasang, dan kontainer bergerak ke pelabuhan tanpa harus menunggu muatan lain. Alur ini membuat FCL lebih stabil dari sisi kecepatan dan risikonya lebih rendah.
Untuk rute-rute padat seperti Surabaya–Kupang, beberapa pelaku usaha lebih memilih FCL karena kestabilannya, meski volume belum penuh.
Kapan Memilih LCL dan Kapan Memilih FCL
LCL cocok untuk pengiriman yang volume-nya kecil, tidak urgen, dan tidak sensitif terhadap getaran atau suhu. Itu sebabnya barang-barang seperti spare part kecil, peralatan kantor, atau karton ringan sering masuk ke jalur LCL.
FCL lebih tepat ketika barang besar, fragile, atau membutuhkan layout penyusunan yang stabil. Misalnya mesin bengkel, peralatan pabrik, furniture premium, coil besi, atau barang yang memiliki titik tumpu berat seperti genset kecil. Barang seperti ini tidak bisa asal dicampur karena bisa merusak muatan lain saat kapal bergoyang.
Selain itu, perhitungan biaya sering lebih efisien menggunakan FCL bila volume mencapai 18–22 CBM ke atas (tergantung jalur). Banyak pengirim baru sering keliru menganggap LCL lebih murah untuk semua situasi. Padahal biaya LCL mengandung banyak komponen tambahan: THC LCL, warehouse fee, stuffing fee, dan handling fee lain yang tidak muncul pada FCL.
Risiko Teknis LCL yang Perlu Diketahui
Skema LCL memberikan fleksibilitas, tetapi risiko teknisnya selalu lebih tinggi karena:
1. Barang Bertumpuk dengan Muatan Lain
Posisi barang tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Pada kondisi tertentu:
- Karton ringan bisa tertimpa muatan besi
- Barang fragile bisa tergeser akibat rem saat forklift
- Plastik wrapping bisa sobek akibat gesekan
- Palet bisa terdorong karena pergerakan kontainer selama perjalanan
Kondisi ini umum terjadi terutama pada musim pengiriman tinggi.
2. Kelembapan dan Kondensasi
Dalam area konsolidasi, barang LCL biasanya menunggu lebih lama. Gudang yang padat, ventilasi terbatas, atau cuaca lembap bisa membuat karton menurun kekuatannya hingga 20–30%. Barang berbahan kertas, kain, atau elektrik yang tidak sealed berisiko menyerap kelembapan.
3. Jalan Konsolidasi yang Lebih Panjang
Barang LCL melewati beberapa titik transit:
- Warehouse shipper → Warehouse konsolidator
- Konsolidator → Pelabuhan
- Pelabuhan → Warehouse tujuan
- Baru diambil atau di-delivery ke penerima
Setiap titik ini menambah titik risiko: geser, gores, atau jatuh saat bongkar-muat.
Mengapa Banyak Perusahaan Memilih FCL Meski Barang Tidak Penuh?
Pengirim berpengalaman memahami satu hal: stabilitas waktu jauh lebih mahal daripada tarif. Kontainer FCL mengurangi variabel risiko seperti:
- Delay karena kuota stuffing penuh
- Muatan lain yang tidak memenuhi standar packing
- Kontainer dibuka ulang untuk pemeriksaan tambahan akibat mixing cargo
- Kesalahan marking akibat banyak shipper dalam satu kontainer
Selain itu, untuk jalur tertentu yang sering mengalami overcapacity kapal, misalnya rute pulau timur, kontainer FCL memastikan slot lebih aman. Banyak pelaku industri juga merujuk perbandingan kapal regular dan LCL pada halaman untuk memahami kestabilan jadwal per rute.
Proses Stuffing FCL yang Benar di Lapangan
Stuffing yang baik harus memperhitungkan titik beban, kelembapan, dan titik geser. Dalam praktiknya, operator lapangan selalu memperhatikan:
Checklist Teknis Stuffing FCL
- Muatan berat ditempatkan di area depan kontainer untuk menjaga distribusi axle.
- Menyisakan minimal 3–5 cm ruang antara dinding kontainer dan barang untuk aliran udara.
- Barang fragile dilapisi foam, palet, atau kayu bantalan dan dipisah dari barang kasar.
- Gunakan lashing belt untuk barang di atas 200–300 kg agar tidak bergeser.
- Pastikan kontainer kering, tidak ada “sweat water”, dan bukan unit yang sebelumnya membawa komoditas berbau kuat.
- Segel dipasang setelah semua pengecekan selesai.
Kesalahan umum adalah memasukkan barang tanpa memperhatikan berat per titik. Ini sangat berbahaya karena dinding kontainer punya toleransi gaya tekan terbatas. Pada barang berbobot 500–800 kg yang hanya bertumpu pada dua titik kecil, lantai bisa melengkung atau rusak.
Proses Penanganan LCL yang Sering Disepelekan
Pada LCL, operator lapangan harus bekerja lebih teliti karena barang dari berbagai shipper memiliki karakter berbeda. Hal-hal yang biasanya menjadi perhatian:
- Barcode dan shipping mark harus jelas; kesalahan marking adalah penyebab paling sering barang tertukar.
- Barang fragil harus diberi tambahan wrapping karena mixing cargo tidak bisa dihindari.
- Palet kayu harus kering; palet basah membuat karton rusak dalam hitungan jam.
- Barang panjang seperti pipa atau besi harus ditempatkan di sisi kontainer untuk meminimalkan gerakan lateral.
Kesalahan yang sering terjadi adalah shipper mengirim barang tanpa palet atau tanpa bungkus tambahan. Begitu masuk ke konsolidator, barang jadi sulit dipisah saat proses stacking, meningkatkan risiko terhimpit.
Analisis Biaya di Lapangan: LCL vs FCL
Secara operasional, LCL terlihat murah di awal, tetapi biaya totalnya sering meningkat karena:
- Biaya handling ganda (di warehouse asal dan tujuan)
- Biaya per CBM yang lebih tinggi
- Biaya trucking tambahan jika konsolidator jauh dari lokasi shipper
- Biaya rework packing jika barang dianggap tidak layak stuffing
FCL lebih stabil karena komponennya lebih sedikit dan lebih mudah diawasi. Bagi pengirim yang rutin, pola umum yang sering terjadi:
- 15–18 CBM: LCL biasanya masih lebih murah
- 18–22 CBM: perbandingan mulai seimbang
- 22+ CBM: FCL hampir selalu lebih efisien
Nilai tersebut berbeda tiap rute dan beban kapal, tetapi cukup representatif dari pengalaman operasional.
Faktor Risiko Laut yang Mempengaruhi LCL dan FCL
Perjalanan laut menambah variabel yang harus diperhitungkan.
Getaran dan Guncangan
Kontainer bisa mengalami guncangan hingga 0.3–0.7g saat cuaca buruk. Pada LCL, barang berbeda karakter bisa bertabrakan karena tidak ada layout terencana. Pada FCL, guncangan bisa diminimalkan karena posisi barang sudah diatur sesuai berat.
Perubahan Suhu dan Kondensasi
Suhu dalam kontainer bisa berubah dari 24°C menjadi 45°C pada siang hari. Kondensasi di malam hari bisa menyebabkan “container rain”. Pada skema FCL, shipper bisa memasang desiccant sesuai kebutuhan, sesuatu yang jarang dilakukan pada LCL.
Kesimpulan
Perbedaan LCL dan FCL sangat menentukan stabilitas waktu, keamanan barang, dan biaya jangka panjang. LCL memberi fleksibilitas bagi muatan kecil, tetapi melewati lebih banyak proses dan risiko. FCL memberi kontrol penuh karena satu kontainer diisi oleh satu pengirim, membuat penanganannya lebih cepat, lebih efektif, dan lebih aman.
Butuh Pengiriman LCL atau FCL yang Lebih Stabil? Lihat opsi layanan lengkap di Papandayan Cargo.
Aman jika packing diperkuat, tetapi risiko tetap lebih tinggi karena mixing cargo.
Volume CBM, jenis barang, biaya warehouse konsolidator, serta biaya handling di pelabuhan.
Biasanya ya, karena tidak menunggu muatan lain dan jarang mengalami proses tambahan.
Bisa, selama akses trucking memungkinkan dan area loading cukup untuk 20–40 ft.
Bisa, tetapi kurang ideal karena barang tidak bisa diamankan secara eksklusif.
Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia
Sekarang sangat mudah kirim barang dari Jakarta ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.
Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia
Sekarang sangat mudah kirim barang dari Surabaya ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.
Last Updated on 01/12/2025 by Rachmat Razi

