5 Kesalahan Umum pada Barang dengan Extra Handling

Kesalahan saat extra handling pada barang berat dan besar yang berisiko menyebabkan kerusakan saat pengiriman
Kesalahan saat extra handling sering terjadi karena packing kurang tepat dan penanganan yang tidak sesuai karakter barang.

Papandayan Cargo – Pengiriman barang dengan kebutuhan extra handling semakin sering ditemui dalam aktivitas distribusi sehari-hari. Mesin produksi, alat medis, elektronik bernilai tinggi, hingga furnitur dengan finishing sensitif termasuk kategori yang tidak bisa diperlakukan seperti kargo biasa. Meski terlihat serupa dari luar, risiko yang menyertainya jauh berbeda.

Dalam praktik lapangan, banyak pengiriman bermasalah bukan karena jarak atau moda transportasi, melainkan karena perlakuan awal yang keliru. Kesalahan kecil di titik awal sering berujung pada kerusakan saat tiba, keterlambatan, atau biaya tambahan yang seharusnya bisa dihindari. Ironisnya, sebagian kesalahan ini terjadi berulang dan dianggap wajar.

Extra handling kerap disalahpahami sebatas tambahan packing atau label khusus. Padahal, kebutuhan extra handling menyentuh banyak aspek: cara angkat, posisi barang, metode pengikatan, hingga komunikasi antar pihak yang terlibat. Tanpa pemahaman menyeluruh, pengiriman berisiko sejak awal diberangkatkan.

Kenapa Extra Handling Sering Dianggap Sepele?

Di lapangan, banyak barang terlihat kokoh dan berat sehingga diasumsikan aman selama tidak jatuh. Persepsi ini umum muncul pada mesin industri atau peralatan logam. Padahal, komponen sensitif sering tersembunyi di dalam, dan kerusakan justru terjadi akibat getaran atau posisi yang tidak tepat selama perjalanan.

Kesalahan lain muncul dari kebiasaan menyamakan semua barang besar sebagai satu kategori. Mesin CNC, lemari pendingin, dan panel listrik sering diperlakukan seragam, meski karakter risikonya berbeda. Ketika pendekatan disamaratakan, extra handling kehilangan fungsinya.

Faktor Lapangan yang Memperbesar Risiko

Lingkungan gudang, alat bantu angkut, dan tekanan waktu menjadi kombinasi yang sering memicu kesalahan. Forklift yang terbatas, tenaga bongkar muat yang berganti-ganti, serta jadwal keberangkatan yang ketat membuat detail kecil terlewat. Dalam kondisi ini, standar extra handling mudah dikompromikan.

1. Salah Menilai Jenis Risiko Barang

Kesalahan saat extra handling paling awal terjadi ketika risiko barang tidak diidentifikasi dengan benar. Banyak pengirim hanya fokus pada berat dan dimensi, tanpa mempertimbangkan kerentanan terhadap getaran, tekanan, atau perubahan posisi.

Contoh yang sering terjadi adalah mesin dengan rangka besi kokoh namun memiliki sensor presisi di dalam. Dari luar terlihat aman, tetapi tanpa penyangga internal, getaran selama perjalanan bisa menyebabkan malfungsi. Risiko semacam ini jarang disadari sebelum barang digunakan kembali.

Implikasinya jelas: kerusakan tidak selalu terlihat saat barang tiba, tetapi muncul saat operasional dimulai. Kerugian waktu dan biaya sering lebih besar dibanding biaya extra handling yang seharusnya diterapkan sejak awal.

2. Menganggap Packing Tambahan Sudah Cukup

Packing kayu atau lapisan pelindung tambahan sering dianggap solusi utama. Padahal, packing hanyalah satu bagian dari extra handling. Kesalahan terjadi ketika perhatian berhenti pada kemasan, sementara cara angkat dan penempatan diabaikan.

Di lapangan, peti kayu yang kuat tetap bisa mengalami tekanan berlebih jika ditumpuk atau diikat tanpa memperhatikan titik berat. Barang di dalam tetap menerima beban tidak merata. Kondisi ini umum terjadi pada pengiriman antar pulau dengan waktu transit panjang.

Pemahaman menyeluruh tentang extra handling bisa dibaca lebih lanjut melalui tips memilih layanan ekspedisi yang membahas bagaimana perlakuan barang seharusnya disesuaikan dengan karakter muatan, bukan sekadar kemasan.

3. Posisi Barang Tidak Dikontrol Sejak Awal

Posisi barang selama perjalanan sering berubah tanpa disadari. Kesalahan saat extra handling muncul ketika posisi awal tidak dikunci dengan benar atau tidak dikomunikasikan ke tim berikutnya.

Kasus yang sering ditemui adalah barang yang seharusnya berdiri tegak, namun diposisikan miring demi menyesuaikan ruang. Selama perjalanan, perubahan kecil ini diperparah oleh guncangan jalan dan aktivitas bongkar muat di titik transit.

Implikasinya bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga klaim yang sulit ditelusuri karena posisi awal tidak terdokumentasi dengan baik.

Baca juga :
Apa itu extra handling
Perbedaan cargo darat, laut, dan udara
Sistem terbaru Papandayan Cargo

4. Kurangnya Koordinasi Antar Pihak

Extra handling melibatkan banyak tangan: pengirim, tim packing, operator gudang, hingga sopir. Kesalahan terjadi ketika informasi risiko barang tidak diteruskan secara utuh.

Sering ditemui kondisi di mana pengirim sudah menjelaskan kebutuhan khusus, namun pesan berhenti di satu titik. Tim berikutnya memperlakukan barang seperti muatan reguler. Situasi ini umum terjadi pada rute panjang atau pengiriman lintas kota.

Pada rute seperti ekspedisi Surabaya Samarinda, koordinasi menjadi krusial karena melibatkan perpindahan moda dan titik transit. Tanpa alur komunikasi yang jelas, standar extra handling mudah terputus di tengah jalan.

5. Mengabaikan Dampak Waktu dan Getaran

Waktu tempuh sering dianggap sekadar durasi. Padahal, semakin lama barang berada di perjalanan, semakin besar akumulasi getaran dan tekanan mikro. Kesalahan saat extra handling terjadi ketika faktor waktu tidak diperhitungkan sebagai risiko aktif.

Barang elektronik besar atau alat ukur presisi sering tiba tanpa cacat visual, namun mengalami penurunan akurasi. Hal ini biasanya baru disadari setelah digunakan. Dalam banyak kasus, penyebabnya bukan benturan besar, melainkan getaran kecil yang berlangsung lama.

Implikasi praktisnya adalah kebutuhan extra handling harus disesuaikan dengan jarak dan kondisi rute, bukan hanya jenis barang.

Pola Kesalahan yang Terlihat Berulang

Jika dicermati, kesalahan-kesalahan tersebut memiliki pola yang sama: asumsi berlebihan dan komunikasi yang terputus. Extra handling sering diperlakukan sebagai tambahan opsional, bukan bagian inti dari perencanaan pengiriman.

Di banyak pengiriman, fokus berhenti pada keberangkatan dan biaya. Detail teknis dianggap urusan operasional belakangan. Pola ini menjelaskan kenapa kesalahan yang sama terus muncul, meski jenis barang dan rutenya berbeda.

Saat Semua Terlihat Aman, Risiko Justru Tersembunyi

Barang dengan extra handling jarang menunjukkan masalah secara instan. Risiko sering muncul setelah barang digunakan atau diuji. Kondisi ini membuat banyak kesalahan sulit ditelusuri kembali ke tahap pengiriman.

Pemahaman menyeluruh tentang kesalahan saat extra handling membantu melihat pengiriman sebagai rangkaian proses, bukan satu peristiwa. Setiap keputusan kecil di awal membawa konsekuensi di akhir.

Kesimpulan

Kesalahan saat extra handling umumnya tidak lahir dari kelalaian besar, melainkan dari asumsi kecil yang dibiarkan berulang. Penilaian risiko yang dangkal, koordinasi yang terputus, dan fokus berlebihan pada kemasan menjadi pemicu utama. Extra handling menuntut cara pandang yang lebih utuh terhadap perjalanan barang, dari awal hingga digunakan kembali.

FAQ

1. Apa yang dimaksud extra handling dalam pengiriman barang?
Perlakuan khusus pada barang tertentu yang memerlukan perhatian lebih dari standar pengiriman reguler.

2. Apakah semua barang besar membutuhkan extra handling?
Tidak semua, tetapi barang dengan komponen sensitif atau risiko getaran tinggi umumnya memerlukannya.

3. Kenapa packing saja tidak cukup untuk extra handling?
Karena risiko juga datang dari posisi, getaran, dan cara penanganan selama perjalanan.

4. Kapan kesalahan extra handling biasanya baru terlihat?
Sering kali setelah barang digunakan, bukan saat barang tiba.

5. Apakah jarak pengiriman memengaruhi kebutuhan extra handling?
Ya, semakin panjang dan kompleks rute, semakin besar akumulasi risiko.

Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia

Pengiriman dari Jakarta sering melibatkan volume besar dan rute panjang ke berbagai wilayah. Barang dengan kebutuhan extra handling dari Jakarta memerlukan perencanaan matang karena kepadatan operasional dan tingginya frekuensi transit dapat memperbesar risiko jika perlakuan khusus tidak dijaga konsisten.

Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia

Sebagai salah satu hub utama logistik, Surabaya melayani banyak pengiriman lintas pulau. Extra handling dari Surabaya perlu mempertimbangkan perpindahan moda dan durasi perjalanan, terutama untuk barang sensitif yang rentan terhadap getaran dan perubahan posisi selama transit.

Last Updated on 06/01/2026 by Rachmat Razi

Rate this post
Search

Cek Tarif dan Resi Dibawah Ini

Artikel Terbaru

Bagikan Jika Bermanfaat

Tag :