Dangerous Goods: Pengertian, Klasifikasi, dan Contohnya dalam Logistik

Apa itu Dangerous Goods, ilustrasi barang berbahaya dengan simbol mudah terbakar dan beracun dalam proses pengiriman kargo
Jenis barang tertentu punya risiko tinggi dan perlu penanganan khusus agar proses pengiriman tetap aman.

Papandayan Cargo – Banyak masalah pengiriman tidak muncul di awal, tetapi di tengah proses. Barang sudah dikemas rapi, dokumen terasa lengkap, armada siap berangkat. Lalu muncul kabar bahwa muatan tidak bisa ikut jadwal, harus diturunkan, atau dikenakan biaya tambahan. Bukan karena rutenya berubah, melainkan karena barang tersebut masuk kategori berbahaya.

Situasi seperti ini kerap dialami oleh pelaku usaha yang sebenarnya tidak merasa mengirim barang “aneh”. Padahal, dalam logistik, ukuran aman atau berbahaya tidak ditentukan oleh kegunaan barang, melainkan oleh perilakunya selama perjalanan.

Ketika barang biasa bertemu kondisi yang tidak biasa

Perjalanan logistik bukan lingkungan netral. Getaran jalan, panas mesin, tekanan udara, kelembapan, dan waktu tempuh panjang menciptakan kondisi yang berbeda dari gudang atau toko. Barang yang stabil saat diam bisa bereaksi ketika dipindahkan dari satu moda ke moda lain.

Logistik memandang setiap perjalanan sebagai rangkaian risiko yang harus dikendalikan. Dari sudut pandang inilah barang berbahaya diklasifikasikan, bukan untuk membatasi, tetapi untuk mencegah kejadian yang merugikan banyak pihak.

Dangerous goods sebagai kerangka pengendalian risiko

Istilah dangerous goods digunakan secara internasional untuk menyebut barang yang dapat membahayakan keselamatan manusia, sarana angkut, atau lingkungan selama proses transportasi. Penilaiannya bersifat teknis dan berbasis sifat fisik serta kimia barang, bukan nilai ekonominya.

Klasifikasi ini menjadi bahasa bersama antar operator, regulator, dan pengirim. Dari sinilah ditentukan cara pengemasan, penempatan di armada, hingga jadwal keberangkatan yang diperbolehkan.

Klasifikasi barang berbahaya dalam logistik

Dalam praktik global, barang berbahaya dibagi ke dalam sembilan kelas. Setiap kelas mewakili jenis risiko utama yang harus diantisipasi sepanjang perjalanan.

1. Kelas 1 Bahan peledak

Golongan ini mencakup bahan yang dapat meledak akibat panas, benturan, atau gesekan. Risiko utamanya bukan hanya ledakan tunggal, tetapi dampak berantai terhadap muatan lain dan struktur armada. Karena sifatnya ekstrem, pengirimannya sangat terbatas dan diawasi ketat.

2. Kelas 2 Gas

Gas disimpan dalam tekanan tinggi dan dibagi menjadi gas mudah terbakar, gas tidak mudah terbakar, serta gas beracun. Kebocoran kecil dapat berubah menjadi bahaya besar, terutama di ruang tertutup. Perubahan suhu selama perjalanan sering menjadi pemicu yang tidak disadari.

3. Kelas 3 Cairan mudah terbakar

Bensin, alkohol industri, dan pelarut termasuk dalam golongan ini. Ancaman terbesarnya sering datang dari uap yang mudah menyebar dan tersulut, bukan hanya dari cairannya sendiri. Dalam kontainer tertutup, risikonya meningkat drastis.

4. Kelas 4 Padatan mudah terbakar

Kelompok ini mencakup bahan yang mudah menyala akibat gesekan, panas, atau paparan udara, termasuk zat yang bereaksi dengan air. Bahayanya sering muncul tiba tiba ketika kemasan rusak atau terkena kelembapan selama transit.

5. Kelas 5 Zat pengoksidasi dan peroksida organik

Zat ini tidak selalu mudah terbakar, tetapi mampu mempercepat atau memperbesar kebakaran. Dalam logistik, mereka diperlakukan sebagai penguat risiko bagi barang lain di sekitarnya, sehingga penempatannya sangat diatur.

6. Kelas 6 Zat beracun dan infeksius

Bahan beracun dapat membahayakan kesehatan melalui paparan langsung maupun tidak langsung. Zat infeksius membawa risiko biologis yang lebih kompleks, terutama jika terjadi kebocoran di area operasional atau fasilitas transit.

7. Kelas 7 Bahan radioaktif

Volume pengirimannya kecil, tetapi dampaknya jangka panjang. Paparan radiasi menjadi perhatian utama, sehingga kelas ini hanya ditangani oleh operator dengan izin dan prosedur khusus.

8. Kelas 8 Zat korosif

Asam dan basa kuat dapat merusak logam, kemasan, dan jaringan manusia. Efeknya sering tidak langsung terlihat, tetapi muncul setelah perjalanan panjang dalam bentuk kebocoran atau kerusakan struktural.

9. Kelas 9 Barang berbahaya lainnya

Golongan ini menampung barang dengan risiko khusus yang tidak masuk kelas sebelumnya. Baterai lithium, magnet kuat, dan mesin yang masih mengandung bahan bakar termasuk di dalamnya. Kelas ini paling sering mengejutkan pengirim karena banyak produknya digunakan sehari hari.

Contoh yang kerap menimbulkan masalah di lapangan

Dalam praktik pengiriman, masalah sering muncul pada barang yang secara fungsi terasa aman dan lazim digunakan. Ketika barang tersebut dikirim dalam skala tertentu atau melalui perjalanan panjang, sifat fisiknya mulai diperhitungkan secara berbeda oleh sistem logistik. Berikut beberapa contoh yang paling sering menimbulkan salah persepsi di lapangan.

1. Perangkat elektronik dengan baterai lithium
Produk elektronik sering dipersepsikan sebagai barang aman karena digunakan sehari hari. Masalah muncul ketika pengiriman dilakukan dalam jumlah besar. Baterai lithium memiliki potensi panas dan reaksi kimia jika tersusun rapat, terkena tekanan, atau mengalami perubahan suhu selama perjalanan. Pada skala tertentu, risiko inilah yang membuat pengirimannya tidak lagi diperlakukan sebagai muatan umum.

2. Cat dan bahan pelapis untuk proyek bangunan
Bagi pelaku proyek, cat adalah material standar. Namun dalam logistik, cat tergolong cairan mudah terbakar. Ancaman utamanya bukan hanya tumpahan, tetapi uap yang dapat terperangkap di ruang tertutup seperti kontainer atau truk box. Ketika dikirim tanpa pemisahan dan pengemasan yang sesuai, muatan ini sering kali harus ditata ulang atau dipisahkan dari barang lain.

3. Mesin bekas dan peralatan industri
Mesin bekas kerap dianggap aman setelah dibersihkan dan dikemas kayu. Dalam praktiknya, sisa oli, bahan bakar, atau cairan hidrolik di dalam sistem mesin dapat menimbulkan risiko selama perjalanan panjang. Bukan mesinnya yang menjadi persoalan, melainkan residu yang masih tertinggal dan berpotensi bereaksi akibat panas dan getaran.

Ketiga contoh ini menunjukkan pola yang sama. Permasalahan muncul ketika pengirim menilai barang dari fungsinya, sementara logistik menilai dari bagaimana sifat fisik barang tersebut bekerja selama perjalanan.

Dampak klasifikasi terhadap alur dan jadwal pengiriman

Begitu sebuah barang masuk kategori barang berbahaya, seluruh alur logistik ikut menyesuaikan. Pengemasan harus memenuhi standar tertentu, penanganan dilakukan oleh personel terlatih, dan penempatan muatan diatur agar tidak saling memperbesar risiko.

Jadwal keberangkatan juga menjadi lebih ketat. Perhitungan estimated time of departure tidak hanya bergantung pada jarak, tetapi juga pada ketersediaan armada yang sesuai dengan kelas barangnya. Pada rute lintas pulau, pemahaman ini semakin penting, seperti pada alur distribusi ekspedisi Malang Makassar yang mengandalkan kombinasi moda darat dan laut.

Biaya, waktu, dan pilihan yang harus diambil

Klasifikasi barang berbahaya hampir selalu berdampak pada biaya. Bukan karena tarif dasar semata, melainkan karena sumber daya tambahan yang diperlukan untuk menjaga keamanan. Pengirim dihadapkan pada pilihan antara kecepatan, fleksibilitas jadwal, dan efisiensi biaya.

Pilihan ini bukan soal mencari jalan termurah, melainkan menyesuaikan kebutuhan dengan risiko yang melekat pada barang.

Memahami sistem agar keputusan terasa masuk akal

Ketika sembilan klasifikasi ini dipahami sejak awal, keputusan logistik menjadi lebih tenang. Tidak ada kejutan di tengah jalan, tidak ada negosiasi mendadak saat barang sudah siap berangkat. Logistik bekerja paling rapi ketika risiko dikenali lebih dulu, bukan saat masalah sudah muncul.

Kesimpulan 

Sembilan golongan barang berbahaya menggambarkan cara logistik mengelola risiko dalam perjalanan yang kompleks. Dengan memahami bagaimana barang dinilai dan dikendalikan, pengiriman tidak lagi terasa seperti tebakan, melainkan sebagai proses yang terukur dan dapat diprediksi.

FAQ

1. Apakah semua barang kimia otomatis termasuk barang berbahaya?

Tidak. Hanya bahan dengan sifat tertentu yang menimbulkan risiko selama transportasi.

2. Mengapa baterai sering menjadi masalah dalam pengiriman?

Karena dapat memicu panas dan reaksi kimia jika tidak ditangani sesuai standar.

3. Apakah barang berbahaya boleh dikirim antar pulau?

Boleh, selama memenuhi regulasi moda transportasi yang digunakan.

4. Apa akibat salah mengklasifikasikan barang?

Pengiriman bisa tertahan, ditolak, atau menimbulkan bahaya selama perjalanan.

5. Apakah usaha kecil perlu memahami klasifikasi ini?

Perlu, karena banyak produk usaha kecil masuk kategori berbahaya tanpa disadari.

Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia

Jakarta menjadi titik awal pengiriman berbagai jenis barang ke seluruh Indonesia, termasuk muatan dengan karakter khusus. Karena volume dan rute yang beragam, pemahaman terhadap sifat barang sejak awal penting agar proses penanganan dan penjadwalan pengiriman berjalan lancar.

Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia

Sebagai hub utama ke wilayah timur Indonesia, pengiriman dari Surabaya banyak melibatkan jalur laut. Untuk barang dengan potensi risiko, penyesuaian pengemasan dan alur pengiriman diperlukan agar proses transit tetap aman dan terkendali.

Last Updated on 03/02/2026 by Rachmat Razi

Rate this post
Search

Cek Tarif dan Resi Dibawah Ini

Artikel Terbaru

Bagikan Jika Bermanfaat