9 Kesalahan Saat Kirim Barang Pecah Belah yang Sering Terjadi di Lapangan

Kesalahan saat kirim barang pecah akibat packing tidak tepat dan perlindungan kurang
Kesalahan saat kirim barang pecah sering terjadi karena packing tidak sesuai dan ruang kosong dalam kardus tidak diamankan.

Papandayan Cargo – Mengirim barang pecah belah sering dianggap urusan sederhana. Barang dibungkus, dimasukkan kardus, lalu diserahkan ke jasa kirim. Banyak pengirim baru sadar risiko setelah barang sampai dalam kondisi retak, gompal, atau hancur sebagian.

Di lapangan, kerusakan jarang terjadi karena satu faktor tunggal. Penyebabnya hampir selalu rangkaian keputusan kecil yang tampak sepele. Cara membungkus, memilih kardus, menata isi, sampai asumsi tentang perlakuan selama perjalanan.

Masalahnya, barang pecah belah tidak pernah bergerak sendirian. Barang ikut dalam arus logistik yang padat, berpindah kendaraan, ditumpuk, digeser, dan melewati berbagai kondisi jalan. Di titik inilah kesalahan kecil berubah menjadi kerugian nyata.

Pengalaman pengiriman menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan sebenarnya bisa diperkirakan sejak awal. Bukan karena kurang niat, tetapi karena kurang memahami bagaimana barang diperlakukan selama proses distribusi.

Barang Pecah Belah Tidak Rusak Karena Jatuh Saja

Banyak orang membayangkan barang pecah belah rusak karena terjatuh dari ketinggian. Kenyataannya, getaran panjang, tekanan dari tumpukan, dan pergeseran selama perjalanan justru lebih sering menjadi penyebab utama.

Dalam perjalanan antarkota, barang bisa berada di dalam kendaraan selama belasan jam. Jalan bergelombang, rem mendadak, dan manuver kendaraan menciptakan tekanan berulang. Tanpa perlindungan yang tepat, retakan mikro muncul sebelum kerusakan terlihat jelas.

Kebiasaan Mengandalkan Kardus Sebagai Pelindung Utama

Kardus sering dianggap sebagai pelindung utama, padahal fungsinya lebih ke wadah, bukan peredam benturan. Kardus tipis dengan dinding lemah mudah berubah bentuk saat tertimpa barang lain.

Banyak kasus gelas atau keramik pecah meski tidak ada bekas jatuh. Tekanan dari atas membuat dinding kardus menekan isi secara perlahan hingga titik rapuhnya menyerah.

Mengapa Kesalahan Terus Terulang?

Kesalahan pengiriman barang pecah belah sering berulang karena hasil akhirnya baru terlihat di tujuan. Proses di tengah perjalanan jarang terlihat oleh pengirim. Tanpa gambaran utuh, asumsi lama terus dipakai.

Selain itu, kebiasaan menekan biaya dan waktu sering mengalahkan pertimbangan risiko. Padahal selisih kecil dalam persiapan bisa menentukan kondisi barang saat diterima.

1. Membungkus Barang Secara Menyatu Tanpa Pemisah

Menggabungkan beberapa barang pecah belah dalam satu lapisan bungkus sering dianggap praktis. Di perjalanan, gesekan antarbarang menjadi sumber benturan paling sering.

Contoh yang umum terjadi adalah piring disusun rapat tanpa sekat. Saat kendaraan bergetar, permukaan saling menekan dan memicu retak halus yang baru terlihat saat dibuka.

2. Menggunakan Bahan Pelindung yang Terlalu Tipis

Bubble wrap tipis sering dipakai hanya satu atau dua lapis. Dalam kondisi ideal mungkin cukup, tetapi di logistik nyata, lapisan tipis cepat kehilangan fungsi.

Barang seperti vas kaca atau botol keramik membutuhkan bantalan yang mampu menyerap tekanan berulang, bukan sekadar lapisan pembungkus.

3. Mengisi Ruang Kosong Secara Asal

Ruang kosong di dalam kardus sering diisi seadanya atau dibiarkan kosong. Saat kendaraan bergerak, barang akan bergeser mengikuti arah gaya.

Kasus umum terjadi pada paket berisi gelas dengan ruang samping kosong. Setiap tikungan membuat isi bergeser dan menghantam dinding kardus berulang kali.

4. Menganggap Label “Fragile” Sudah Cukup

Label mudah pecah membantu identifikasi, tetapi tidak mengubah hukum fisika. Barang tetap mengalami tekanan, tumpukan, dan getaran.

Banyak pengirim merasa aman setelah menempelkan label besar, lalu mengendurkan standar pengemasan. Di lapangan, perlindungan fisik tetap menjadi penentu utama.

5. Tidak Mendokumentasikan Kondisi Awal Barang

Tanpa dokumentasi, sulit membedakan kerusakan lama dan kerusakan akibat pengiriman. Hal ini sering menimbulkan kebingungan saat barang tiba dalam kondisi bermasalah.

Panduan tentang apa saja yang perlu difoto sebelum barang dikirim bisa ditemukan pada pembahasan apa yang harus difoto sebelum kirim barang yang menjelaskan sudut pengambilan gambar dan detail penting sebelum barang masuk proses distribusi.

6. Menyatukan Barang Pecah Belah dengan Barang Berat

Menggabungkan barang ringan dan pecah belah dengan barang berat dalam satu paket meningkatkan risiko tekanan vertikal. Berat di atas akan terus menekan isi di bawah sepanjang perjalanan.

Contoh yang sering terjadi adalah keramik dikemas bersama spare part logam. Meski tidak jatuh, tekanan konstan membuat keramik retak di bagian bawah.

7. Salah Memilih Ukuran dan Kualitas Kardus

Kardus terlalu besar memberi ruang gerak berlebih, sementara kardus terlalu kecil membuat isi tertekan. Kualitas kardus juga menentukan daya tahannya terhadap tumpukan.

Dalam pengiriman jarak jauh seperti ekspedisi Surabaya Pontianak, kardus dengan dinding lemah sering berubah bentuk akibat kelembapan dan tekanan selama perjalanan.

8. Mengabaikan Arah Posisi Barang

Posisi atas-bawah sering diabaikan. Barang diletakkan tanpa mempertimbangkan titik terkuat dan terlemahnya.

Botol kaca yang diletakkan horizontal, misalnya, lebih rentan retak di leher saat terjadi getaran panjang dibandingkan posisi berdiri dengan penyangga yang tepat.

9. Menganggap Semua Pengiriman Memiliki Risiko yang Sama

Risiko pengiriman sangat dipengaruhi jarak, moda transportasi, dan jalur yang dilewati. Perlakuan pengemasan yang sama untuk rute dekat dan jauh sering berakhir dengan kerusakan.

Pengiriman lintas pulau memiliki karakter berbeda dengan pengiriman dalam kota. Durasi, bongkar muat, dan perubahan kendaraan memperbesar potensi tekanan.

Pola Kesalahan yang Sering Tidak Disadari

Jika diperhatikan, sebagian besar kesalahan kirim barang pecah belah bukan karena kurang niat melindungi, tetapi karena asumsi yang keliru. Banyak keputusan diambil berdasarkan pengalaman terbatas, bukan gambaran proses logistik secara utuh.

Barang pecah belah membutuhkan pendekatan yang memandang perjalanan sebagai rangkaian tekanan kecil yang terjadi terus-menerus. Saat perlindungan hanya disiapkan untuk satu jenis risiko, risiko lain tetap bekerja diam-diam.

Kesimpulan

Kesalahan kirim barang pecah belah hampir selalu berakar pada pemahaman yang kurang lengkap tentang apa yang terjadi selama pengiriman. Kerusakan jarang disebabkan satu kejadian besar, melainkan akumulasi tekanan kecil yang tidak diperhitungkan. Dengan memahami pola ini, keputusan pengemasan menjadi lebih realistis dan selaras dengan kondisi lapangan.

FAQ

1. Apakah bubble wrap selalu cukup untuk barang pecah belah?
Tidak selalu. Bubble wrap perlu dikombinasikan dengan bantalan dan kardus yang kuat agar efektif menyerap tekanan berulang.

2. Apakah label fragile menjamin barang aman?
Tidak. Label hanya membantu identifikasi, bukan perlindungan fisik terhadap tekanan dan getaran.

3. Mengapa barang bisa pecah tanpa bekas jatuh?
Getaran panjang dan tekanan tumpukan dapat memicu retakan mikro yang berkembang selama perjalanan.

4. Apakah jarak pengiriman memengaruhi risiko kerusakan?
Ya. Semakin jauh dan kompleks rute, semakin besar akumulasi tekanan yang dialami barang.

5. Apakah dokumentasi foto benar-benar penting?
Penting untuk memastikan kondisi awal barang dan membantu evaluasi jika terjadi masalah di tujuan.

Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia

Pengiriman dari Jakarta ke berbagai wilayah Indonesia melibatkan perpindahan barang melalui jalur darat, laut, atau kombinasi keduanya. Untuk barang pecah belah, karakter perjalanan yang panjang dan melibatkan beberapa titik bongkar muat membuat perlindungan menyeluruh menjadi faktor krusial sejak awal pengemasan.

Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia

Surabaya menjadi salah satu simpul distribusi utama ke wilayah timur Indonesia. Dalam pengiriman barang pecah belah, rute ini sering melibatkan perjalanan laut dengan durasi panjang, sehingga stabilitas kemasan dan daya tahan terhadap getaran menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.

Last Updated on 03/01/2026 by Rachmat Razi

Rate this post
Search

Cek Tarif dan Resi Dibawah Ini

Artikel Terbaru

Bagikan Jika Bermanfaat

Tag :