Kesalahan Umum saat Packing Barang Tipis yang Sering Memicu Penyok

Lembaran material tipis sebagai ilustrasi kesalahan packing yang dapat memicu kerusakan atau penyok.
Panduan mengenali kesalahan packing barang tipis yang sering menyebabkan penyok saat pengiriman.

Papandayan Cargo – Barang tipis memiliki ketahanan tekan yang rendah, struktur permukaan yang luas, dan titik tumpu kecil sehingga mudah berubah bentuk ketika menerima tekanan vertikal maupun benturan lateral. Dalam proses pengiriman yang melibatkan konsolidasi, tumpukan muatan, dan vibrasi perjalanan, karakteristik tersebut membuat barang tipis berada dalam kategori risiko tinggi. Banyak kerusakan terjadi bukan karena proses transportasi semata, tetapi karena kesalahan pada tahap packing.

Menganggap Semua Barang Memiliki Ketahanan Tekan yang Sama

Kesalahan mendasar yang sering muncul adalah memperlakukan barang tipis seolah memiliki daya tahan setara dengan barang berdinding tebal. Barang dengan ketebalan material di bawah 1 mm atau struktur berongga sangat sensitif terhadap perubahan tekanan. Kaleng ringan, casing logam tipis, panel aluminium, dan lembaran konstruksi tertentu sering mengalami penyok karena penilaian ketahanan yang keliru. Kondisi ini selaras dengan pembahasan teknis mengenai material bangunan tipis.

Packing Lunak yang Dianggap Cukup untuk Mencegah Penyok

Bubble wrap, wrapping film, atau foam sheet hanya dirancang untuk meredam benturan, bukan menahan tekanan statis. Namun, banyak pengirim mengandalkan material lunak sebagai satu-satunya lapisan perlindungan. Ketika barang tipis ditumpuk atau mendapatkan tekanan dari sisi lain, bahan lunak tidak mampu mempertahankan struktur barang. Akibatnya, penyok terjadi meski barang tampak aman secara visual.

Tidak Menambahkan Struktur Penguat pada Permukaan Rentan

Packing barang tipis membutuhkan elemen rigid sebagai penyebar tekanan. Papan karton berlapis, rangka kayu ringan, atau lembaran pelindung keras diperlukan untuk mencegah gaya eksternal terkonsentrasi pada satu titik. Kesalahan yang sering ditemukan adalah tidak menambahkan reinforcement pada sisi paling luas atau paling lemah, sehingga deformasi muncul ketika barang melewati proses stacking di fasilitas transit. Pada rute dengan volume konsolidasi tinggi, seperti jalur yang searah dengan layanan ekspedisi Surabaya Manokwari, peran reinforcement menjadi sangat krusial.

Salah Menentukan Zona Aman di Dalam Kemasan

Barang tipis sering ditempatkan terlalu dekat dengan sisi luar kemasan atau area yang berpotensi mengalami tekanan. Tanpa jarak buffer minimal 2–5 cm, tekanan kecil dari luar dapat langsung menekan permukaan barang. Barang dengan ruang kosong di dalam casing, seperti kabinet tipis atau drum kosong, bahkan membutuhkan stabilisasi internal agar bentuknya tidak berubah ketika kemasan bergeser.

Penataan Barang Asimetris yang Tidak Disesuaikan dengan Titik Tekanan

Barang tipis yang memiliki bentuk tidak simetris cenderung menanggung tekanan tidak merata. Kesalahan packing terjadi ketika barang ditempatkan tanpa memperhatikan bagian yang paling kuat dan paling lemah. Tangki ringan, perabot melengkung, dan rangka logam tipis membutuhkan orientasi penempatan yang tepat agar tekanan tidak terpusat di salah satu sisi.

Mengabaikan Dinamika Perpindahan dalam Rantai Logistik

Packing sering dianggap selesai ketika barang tertutup dan direkatkan. Namun, barang tipis akan menghadapi fase bongkar muat, forklift movement, geseran antarmuatan, serta vibrasi perjalanan selama 24–72 jam. Kesalahan paling umum adalah tidak memperhitungkan perubahan posisi barang selama perjalanan. Akibatnya, struktur internal barang menerima tekanan berulang yang memicu deformasi mikro sebelum akhirnya berubah bentuk secara kasat mata.

Penutup

Packing barang tipis menuntut pemahaman struktural dan teknis yang lebih mendalam dibanding barang reguler. Identifikasi titik lemah, penggunaan reinforcement rigid, dan penentuan zona aman di dalam kemasan menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyok. Untuk memperdalam wawasan mengenai pengiriman dan dinamika logistik domestik, referensi tambahan dapat ditemukan di Papandayan Cargo.

Kesimpulan

Kesalahan umum saat packing barang tipis biasanya berasal dari asumsi keliru mengenai ketahanan material serta ketidaktepatan dalam memilih lapisan pelindung. Tanpa reinforcement yang sesuai, tekanan kecil sekalipun dapat berubah menjadi penyebab utama penyok.

Pemahaman terhadap dinamika perjalanan, distribusi beban, dan struktur barang membantu menciptakan perlindungan yang lebih optimal selama pengiriman.

FAQ

1. Mengapa barang tipis mudah penyok?

Barang tipis memiliki ketahanan tekan rendah dan struktur lebar tanpa penguat sehingga sensitif terhadap tekanan serta benturan.

2. Apa kesalahan packing yang paling sering terjadi pada barang tipis?

Kesalahan paling umum adalah hanya menggunakan kemasan lunak tanpa pelindung keras.

3. Bagaimana mengetahui bagian barang yang perlu penguatan?

Bagian dengan permukaan luas, titik tumpu kecil, atau ketebalan rendah biasanya membutuhkan reinforcement.

4. Apakah bubble wrap dapat mencegah penyok?

Bubble wrap efektif untuk benturan, tetapi tidak dirancang untuk menahan tekanan statis.

5. Kapan risiko deformasi paling tinggi pada barang tipis?

Risiko meningkat selama stacking, perpindahan antarmoda, dan fase bongkar muat.

Kirim Barang dari Jakarta ke Seluruh Indonesia

Sekarang sangat mudah kirim barang dari Jakarta ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.

Kirim Barang dari Surabaya ke Seluruh Indonesia

Sekarang sangat mudah kirim barang dari Surabaya ke seluruh Indonesia, kamu bisa langsung menghubungi sales Papandayan Cargo untuk mendapatkan penawaran harga, informasi packing, dan estimasi pengiriman ke seluruh Indonesia.

Last Updated on 08/12/2025 by Rachmat Razi

5/5 - (1 vote)
Search

Cek Tarif dan Resi Dibawah Ini

Artikel Terbaru

Bagikan Jika Bermanfaat