Perbedaan 1PL, 2PL, 3PL, 4PL, dan 5PL dalam Dunia Logistik

Ilustrasi aktivitas truk logistik untuk menjelaskan perbedaan 1PL dan 2PL dalam manajemen pengiriman.
Perbedaan 1PL dan 2PL dijelaskan melalui peran pemilik barang dan penyedia jasa transportasi.

Papandayan Cargo – Perbedaan inti antar level PL terlihat dari siapa yang mengendalikan barang, siapa yang melakukan eksekusi, dan sejauh apa integrasi proses dilakukan. 1PL mengurus sendiri, 2PL menyewa armada atau jasa angkut, 3PL menjalankan operasional end-to-end, 4PL memimpin orkestrasi seluruh rantai pasok, dan 5PL mengoptimasi jaringan multi-provider berbasis teknologi.

Di lapangan, perbedaan level PL bukan soal definisi teori, tetapi soal keterlibatan operasional dan cakupan tanggung jawab. Ketika menangani ribuan kg muatan setiap hari, perbedaan ini terlihat dari siapa yang mengontrol dokumen, siapa yang menentukan rute, siapa yang memikul risiko kerusakan, dan siapa yang memastikan barang benar-benar sampai dengan lead time stabil.

1PL: Pemilik Barang Mengurus Semua Sendiri

1PL berarti pemilik barang menjalankan seluruh aktivitas logistik dengan sumber daya internal tanpa vendor eksternal.

Di model ini, pemilik barang biasanya punya kendaraan sendiri, sopir sendiri, alat bongkar sendiri, dan tim penanganan barang yang tertanam langsung dalam operasional. Contohnya pabrik yang punya 3–10 truk engkel untuk antar distribusi harian.

Praktik lapangan yang paling terlihat:

  • Truk berangkat setelah produksi selesai atau jarang on-schedule.
  • Tidak ada buffer armada; ketika satu unit rusak, pengiriman tertunda.
  • Sistem tracking biasanya manual via chat sopir.
  • Packing, pengamanan muatan, hingga penataan trayek dilakukan oleh tim internal yang kadang tidak punya standar teknis transportasi.

Kesalahan umum:

  • Overload 200–500 kg per unit karena “mumpung sekalian”.
  • Sistem penjadwalan tidak disiplin.
  • Tidak menghitung turning radius forklift, akibatnya barang menabrak pintu gudang.

2PL: Penyedia Transportasi atau Layanan Angkut Langsung

2PL adalah penyedia jasa angkut yang fokus pada transportasi, bukan pengelolaan rantai pasok menyeluruh.

Contoh paling dekat adalah layanan ekspedisi muatan besar seperti Papandayan Cargo yang melayani bisnis melalui jalur darat dan laut, termasuk rute pengiriman rutin seperti ekspedisi Surabaya – Banjarmasin melalui jalur konsolidasi kargo.

Ciri operasional 2PL di lapangan:

  • Fokus pada pemindahan barang: pickup, konsolidasi, linehaul, dan delivery.
  • Tidak mengatur inventory pelanggan.
  • Tidak melakukan forecasting permintaan.
  • Tidak melakukan manajemen vendor lain.

Model ini paling pas untuk UMKM dan perusahaan menengah yang butuh pengiriman rutin tanpa harus memelihara armada sendiri.

Parameter teknis yang sering dicek 2PL:

  • Stabilitas center of gravity saat muatan besar masuk ke bak truk (misal mesin 400–800 kg).
  • Kekuatan alas pallet (biasanya minimal 800–1.200 kg untuk barang berat).
  • Pengikatan barang dengan minimal 4 titik tumpu untuk barang >300 kg.
  • Toleransi guncangan di jalur antar-pulau.

Kesalahan umum klien ketika memakai 2PL:

  • Memberikan dimensi barang yang tidak akurat; selisih 10–20 cm membuat barang tidak bisa masuk kontainer atau truk.
  • Packing kurang rigid padahal barang melewati 2–3 kali proses konsolidasi.
  • Mengirim barang cair tanpa test kebocoran.

3PL: Penyedia Layanan Logistik Terintegrasi

3PL menjalankan lebih dari sekadar transportasi. Mereka mengelola penyimpanan, inbound–outbound, wrapping, hingga fulfillment.

Di lapangan, 3PL berarti vendor sudah menguasai alur operasional dari barang masuk ke gudang sampai barang keluar ke pelanggan. Mereka biasanya memiliki:

  • Sistem WMS (Warehouse Management System).
  • SOP inbound secara detail.
  • Regimen kontrol suhu/kelembapan untuk barang sensitif (farmasi, kosmetik).
  • Perhitungan kapasitas picking & packing per jam.

Situasi lapangan yang membedakan 3PL dari 2PL:

  • Ada buffer stock: safety stock biasanya 5–10% dari kebutuhan.
  • Ada quality check formal untuk inbound.
  • Ada SLA yang harus dipenuhi, misalnya pick & pack maksimal 4 jam setelah pesanan masuk.

Konsep SLA ini bisa dipelajari lebih rinci dengan studi banding standar operasional di halaman SLA Logistik.

Kesalahan umum yang sering muncul pada 3PL:

  • Input SKU tidak konsisten menyebabkan variansi stok.
  • Kesalahan picking karena label tidak terbaca jelas.
  • Slotting barang tidak memperhitungkan frekuensi order (fast-moving harus di depan).

4PL: Orkestrator Rantai Pasok (Tidak Menjalankan Angkutannya Sendiri)

4PL fokus pada perencanaan strategis dan integrasi seluruh vendor tanpa mengoperasikan gudang atau armada sendiri.

Di lapangan, 4PL biasanya:

  • Mengatur network planning.
  • Menentukan vendor mana yang dipakai di tiap jalur.
  • Mengatur SLA semua pihak mulai 2PL, 3PL, hingga penyedia IT.
  • Mengoptimasi biaya, waktu, dan kapasitas.

Contoh situasi nyata:

Ketika sebuah industri F&B punya 12 distributor di berbagai provinsi, 4PL akan menghitung pola permintaan, menentukan rute suplai, menentukan kapan pakai truk 2PL besar atau small fleet, dan kapan pakai gudang 3PL.

Mereka tidak mengangkat barang, tidak mengikat pallet, namun memastikan semua berjalan dengan ritme yang sinkron.

Risiko operasional 4PL:

  • Ketergantungan pada data akurat. Selisih demand forecasting 8–12% dapat mengacaukan jadwal armada.
  • Varying service quality antar-vendor.
  • Lead time membengkak jika dokumentasi vendor tidak seragam.

5PL: Integrator Multi-Network Berbasis Teknologi

5PL mengelola jaringan logistik besar berbasis digital, menggabungkan banyak penyedia 3PL/4PL dan memaksimalkan efisiensi melalui automasi, IoT, dan predictive routing.

5PL bukan sekadar mengatur vendor, tetapi mereka mengatur ekosistem. Biasanya dipakai oleh e-commerce skala nasional atau global.

Ciri teknis 5PL dalam operasi:

  • Menggunakan routing engine otomatis yang mempertimbangkan cuaca, kepadatan, hingga historical delay.
  • Tracking berbasis API dari banyak operator.
  • Real-time capacity balancing antar warehouse dan antar armada.
  • Anomali langsung terdeteksi, misalnya pallet terlalu panas (>32°C untuk barang tertentu) atau getaran terlalu tinggi di jalur tol tertentu.

Tantangan operasional:

  • Integrasi API antar vendor yang standar sistemnya berbeda.
  • Validasi data scan-in dan scan-out.
  • Penyelarasan SLA lintas jaringan logistik yang kompleks.

Tabel Ringkas Perbedaan 1PL – 5PL dari Kacamata Praktisi Lapangan

LevelKendali OperasionalEksekusi LapanganContoh PenggunaanRisiko Terbesar
1PLFull oleh pemilik barangInternalDistribusi pabrikArmad rusak, tanpa backup
2PLPengirim mengatur, vendor mengangkutVendor transportasiPengiriman muatan besarDimensi & packing salah
3PLVendor mengelola transportasi + gudangVendorFulfillment, storageKesalahan stok & picking
4PLMengorkestrasi vendorTidak eksekusi langsungMulti-vendor supply chainKetergantungan data
5PLEkosistem digital multi-networkTidak eksekusiE-commerce nasionalIntegrasi sistem & SLA

Butuh layanan pengiriman muatan besar yang stabil, responsif, dan teruji di lapangan? Langsung kunjungi Papandayan Cargo. Dari Jakarta, Surabaya, dan Malang ke seluruh Indonesia. Gratis jemput barang dan memastikan barang sampai dengan tepat dan aman.

Kesimpulan

Inti perbedaan antar level PL terletak pada seberapa jauh penyedia layanan terlibat dalam pengendalian operasional dan integrasi proses. 1PL mengurus semua sendiri, 2PL fokus pada transportasi, 3PL mengelola penyimpanan dan distribusi, 4PL mengatur orkestrasi lintas vendor, dan 5PL mengoptimasi jaringan besar berbasis digital. Pemahaman ini penting agar pemilik bisnis bisa memilih model yang paling sesuai dengan kapasitas tim, volume barang, dan tingkat risiko operasional.

FAQ

 Karena tidak perlu memelihara armada sendiri dan biaya lebih stabil untuk pengiriman rutin.

 Mayoritas iya, karena level layanan mencakup penyimpanan dan pengelolaan stok.

 Umumnya tidak, karena struktur 4PL dirancang untuk rantai pasok skala besar.

 Tidak selalu, tapi paling optimal untuk bisnis dengan ribuan order harian.

Tidak. Yang menentukan adalah kebutuhan operasional dan skala bisnis.

Last Updated on 10/12/2025 by Rachmat Razi

Rate this post
Search

Cek Tarif dan Resi Dibawah Ini

Berita Terbaru

contoh nav

Kalimantan merupakan salah satu jalur distribusi utama industri manufaktur, pertambangan,

Bagikan Jika Bermanfaat